
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat tajam setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara terbuka menuduh Uni Emirat Arab terlibat langsung membantu agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Teheran.
Dalam pernyataan kerasnya saat menghadiri KTT BRICS di India, Araghchi bahkan menyebut Abu Dhabi sebagai “mitra aktif” dalam serangan terhadap Iran.
“UEA adalah mitra aktif dalam agresi ini dan tidak ada keraguan mengenai hal itu,” kata Araghchi dalam unggahan di Telegram.
Ia menuding pemerintah Uni Emirat Arab bukan hanya menolak mengecam serangan AS-Israel terhadap Iran, tetapi juga diduga ikut terlibat dalam operasi militer tersebut.
“Menjadi jelas bahwa mereka ikut berpartisipasi dalam serangan-serangan tersebut dan bahkan mungkin bertindak langsung melawan kami,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan eskalasi baru dalam hubungan Iran dan negara-negara Teluk Arab yang selama ini sudah dipenuhi ketegangan politik dan persaingan pengaruh kawasan.
Araghchi juga menyinggung laporan mengenai pertemuan “rahasia” Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Abu Dhabi yang sebelumnya diungkap media Israel, meski telah dibantah pemerintah UEA.
Menurut Teheran, hubungan diam-diam antara Israel dan sejumlah negara Teluk kini semakin nyata di tengah konflik yang meluas di Timur Tengah.
Dalam pernyataan yang dimuat kantor berita pemerintah Iran, IRNA, Araghchi memperingatkan Abu Dhabi bahwa kedekatan dengan AS dan Israel justru dapat menyeret UEA ke dalam ancaman keamanan yang lebih besar.
“Israel dan Amerika tidak dapat menjamin keamanan mereka,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah Teluk telah menjadikan negara-negara Arab rentan menjadi sasaran serangan balasan Iran.
“Kami dan UEA adalah tetangga. Kami hidup berdampingan di masa lalu dan harus terus hidup berdampingan di masa depan,” katanya.
Ketegangan Iran dan Uni Emirat Arab memang bukan hal baru. Namun situasi memanas drastis sejak serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu yang kemudian dibalas Teheran dengan rentetan serangan ke sejumlah target militer AS dan sekutunya di kawasan Timur Tengah.
Iran sebelumnya juga berulang kali menuduh negara-negara Arab Teluk memberikan akses wilayah dan fasilitas militer bagi operasi Amerika Serikat terhadap Teheran.
Di sisi lain, negara-negara Arab, termasuk UEA dan Arab Saudi, terus membantah tuduhan tersebut dan menegaskan tidak mengizinkan wilayah udara maupun pangkalan mereka digunakan untuk menyerang Iran.
Meski demikian, tudingan terbaru dari Abbas Araghchi diperkirakan akan semakin memperkeruh hubungan diplomatik kawasan dan meningkatkan kekhawatiran dunia terhadap potensi perang terbuka yang lebih luas di Timur Tengah.
Di tengah memanasnya konflik, kawasan Teluk kini kembali berada di bawah bayang-bayang ancaman perang regional yang dapat mengguncang stabilitas ekonomi global, jalur energi dunia, dan keamanan internasional.[dk]