
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH — Uni Emirat Arab dilaporkan gagal membujuk Arab Saudi dan Qatar untuk melancarkan serangan militer gabungan terhadap Iran di tengah memanasnya konflik kawasan Teluk.
Laporan Bloomberg yang dikutip Middle East Eye pada Sabtu (16/5/2026) menyebutkan Presiden UEA, Mohamed bin Zayed Al Nahyan, sempat melakukan serangkaian komunikasi intensif dengan para pemimpin Teluk, termasuk Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, tidak lama setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu.
Sebagai respons, Teheran disebut meluncurkan ribuan rudal dan drone ke negara-negara Teluk. UEA menjadi negara yang paling terdampak, dengan hampir 3.000 rudal dan drone menghantam wilayahnya.
Namun, Mohammed bin Salman bersama para pemimpin Teluk lainnya menolak ajakan Abu Dhabi untuk melakukan serangan terkoordinasi terhadap Iran.
Laporan tersebut menyoroti bagaimana konflik Iran justru memperdalam rivalitas lama antara Saudi dan UEA, alih-alih menyatukan negara-negara Teluk menghadapi musuh bersama.
Belakangan, Saudi dan UEA memang dilaporkan melakukan operasi militer secara terpisah terhadap Iran. Namun pendekatan kedua negara disebut sangat berbeda.
Arab Saudi memilih langkah yang lebih terukur dan cepat beralih mendukung jalur mediasi melalui sekutunya, Pakistan. Sementara UEA mengambil langkah lebih agresif dengan menyasar fasilitas energi Iran.
The Wall Street Journal melaporkan UEA menyerang Pulau Lavan di Teluk Persia pada awal April, bertepatan dengan momentum pengumuman gencatan senjata oleh Presiden AS Donald Trump.
Serangan tersebut disebut memicu kebakaran besar dan melumpuhkan sebagian kapasitas fasilitas energi Iran selama berbulan-bulan, sekaligus memperburuk eskalasi kawasan.
Secara geopolitik, UEA dinilai lebih rentan terhadap tekanan Iran dibanding Saudi. Tidak seperti Riyadh yang memiliki jalur ekspor minyak alternatif melalui Laut Merah, Abu Dhabi sangat bergantung pada stabilitas kawasan Teluk.
Perang berkepanjangan juga disebut mulai mengganggu posisi UEA sebagai pusat keuangan dan pariwisata regional.
Di tengah situasi tersebut, Abu Dhabi dilaporkan aktif melobi Washington agar melanjutkan tekanan militer terhadap Iran. UEA bahkan disebut pernah mengusulkan rancangan di Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk membuka opsi penggunaan kekuatan terkait kendali Iran atas Selat Hormuz, meski proposal itu gagal mendapat dukungan.
Penasihat Presiden UEA, Anwar Gargash, juga mengkritik keras respons Dewan Kerja Sama Teluk yang dianggap terlalu lemah menghadapi Iran.
Ketegangan antarnegara Teluk semakin terlihat setelah UEA memutuskan keluar dari OPEC pada Mei lalu.
Sementara itu, hubungan UEA dengan Israel terus menguat di tengah konflik. Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, mengungkapkan Israel telah mengirim sistem pertahanan udara Iron Dome beserta personel militernya ke UEA untuk membantu menghadapi ancaman rudal Iran.
“Israel baru saja mengirim baterai Iron Dome dan personel untuk membantu mengoperasikannya ke UEA,” kata Huckabee dalam sebuah acara di Tel Aviv awal bulan ini.
Meski demikian, Abu Dhabi tampak berhati-hati mengakui secara terbuka kedekatannya dengan Israel. Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sempat menyebut Netanyahu mengunjungi UEA selama perang berlangsung, namun klaim tersebut dibantah pemerintah Abu Dhabi.[dk]