
Ilustrasi.net
MEDIASURAK.ID,BANDA ACEH – China tampaknya tidak lagi puas menjadi pengejar dalam perlombaan kecerdasan buatan. Setelah bertahun-tahun tertinggal dari Amerika Serikat, perusahaan-perusahaan teknologi Negeri Tirai Bambu kini berhasil menarik sejumlah ilmuwan AI papan atas dari OpenAI, Google DeepMind, dan Meta untuk membangun generasi berikutnya dari kecerdasan buatan yang diyakini akan menentukan peta kekuatan ekonomi dunia di masa depan.
Sejumlah ilmuwan elite yang pernah membangun kejayaan OpenAI, Google DeepMind, hingga Meta mulai meninggalkan Silicon Valley dan memilih bergabung dengan perusahaan-perusahaan teknologi China yang tengah memburu ambisi besar membangun Artificial General Intelligence (AGI).
Fenomena tersebut menjadi sinyal penting bahwa China tidak lagi sekadar mengejar ketertinggalan dalam perlombaan AI global. Negeri Tirai Bambu kini mulai menarik pulang talenta-talenta terbaik dunia untuk membangun ekosistem AI yang mampu menantang dominasi Amerika Serikat.
Salah satu contoh terbaru adalah Yao Shunyu, mantan peneliti OpenAI yang kini menjabat sebagai Kepala Ilmuwan AI (Chief AI Scientist) Tencent. Setelah meninggalkan perusahaan pembuat ChatGPT itu tahun lalu, Yao kini memimpin pengembangan teknologi AI generasi berikutnya di salah satu perusahaan teknologi terbesar China.
Dalam sebuah forum yang digelar Tencent bersama otoritas Beijing, Yao secara terbuka mengungkapkan ambisinya membangun organisasi AGI jangka panjang di China.
“Tujuan pribadi saya adalah kita harus membangun sebuah organisasi AGI jangka panjang di China,” ujar Yao.
AGI merupakan teknologi yang selama ini menjadi “cawan suci” industri AI dunia. Berbeda dengan AI saat ini yang umumnya dirancang untuk tugas-tugas tertentu, AGI diharapkan memiliki kemampuan berpikir, belajar, dan memecahkan masalah setara atau bahkan melampaui kecerdasan manusia.
Target tersebut selama ini menjadi fokus perusahaan-perusahaan Amerika seperti OpenAI, Anthropic, dan Alphabet melalui Google DeepMind.
Namun kini perusahaan-perusahaan China mulai menunjukkan ambisi serupa.
Dari Mengejar Menjadi Menantang
Selama bertahun-tahun, perusahaan teknologi China lebih dikenal mengembangkan penerapan AI untuk kebutuhan praktis seperti manufaktur, kendaraan pintar, e-commerce, dan perangkat elektronik.
Sementara itu, pengembangan AGI masih didominasi perusahaan-perusahaan Amerika yang memiliki akses terhadap talenta global, modal besar, dan infrastruktur komputasi kelas dunia.
Namun lanskap tersebut mulai berubah.
Keberhasilan perusahaan-perusahaan China merekrut peneliti dari Silicon Valley menunjukkan adanya pergeseran strategi. China tidak lagi hanya fokus pada aplikasi AI, tetapi mulai membangun fondasi untuk menciptakan terobosan teknologi yang dapat menentukan arah masa depan industri global.
Dalam forum tersebut, Yao bahkan menyatakan bahwa masa depan AI tidak akan didominasi oleh satu aplikasi tunggal seperti ChatGPT atau Claude.
“Saya rasa ChatGPT atau Claude tidak akan menjadi satu-satunya super-app,” ujarnya.
Menurutnya, masih terdapat peluang ekonomi bernilai triliunan dolar yang belum tergarap, terutama melalui pengembangan model AI yang lebih kecil, efisien, dan konsisten dalam menjalankan berbagai tugas dasar.
Arus Balik Talenta
Perpindahan Yao bukanlah kasus tunggal.
Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan-perusahaan teknologi China semakin agresif merekrut ilmuwan AI kelas dunia yang sebelumnya berkarier di Amerika Serikat.
Alibaba, misalnya, dilaporkan berhasil merekrut Hao Zhou, peneliti dari Google DeepMind, untuk memperkuat pengembangan model AI Qwen.
Sementara itu, Wu Yonghui yang sebelumnya menjabat Wakil Presiden Penelitian di Google DeepMind, meninggalkan California pada Februari 2025 untuk memimpin divisi riset ByteDance Seed, unit pengembangan AI milik ByteDance, perusahaan induk TikTok.
Fenomena serupa juga terlihat pada berdirinya Moonshot AI, perusahaan pengembang model Kimi AI yang didirikan Yang Zhilin, mantan peneliti Meta AI dan Google Brain.
Masuknya para ilmuwan berpengalaman tersebut mempercepat kemampuan perusahaan-perusahaan China dalam mengejar bahkan menantang dominasi perusahaan AI Amerika.
Faktor Geopolitik
Perubahan arah karier para ilmuwan AI itu tidak bisa dilepaskan dari dinamika geopolitik yang semakin kompleks.
Ketegangan hubungan Washington-Beijing, pembatasan akses China terhadap chip AI canggih, serta ketidakpastian kebijakan imigrasi Amerika Serikat menjadi faktor yang ikut memengaruhi keputusan sebagian talenta teknologi untuk kembali ke tanah kelahirannya.
Di sisi lain, pemerintah China juga secara agresif meningkatkan investasi di sektor riset dan teknologi.
Beijing menggelontorkan dana besar untuk penelitian ilmiah, memberikan berbagai insentif bagi talenta unggul, serta mendorong perusahaan-perusahaan teknologi nasional agar lebih kompetitif dalam perlombaan AI global.
Langkah tersebut membuat banyak ilmuwan keturunan China melihat peluang yang semakin besar untuk mengembangkan karier dan penelitian mereka di dalam negeri.
Amerika Mulai Lebih Hati-hati
Menariknya, optimisme yang berkembang di China justru berbanding terbalik dengan meningkatnya kehati-hatian di Amerika Serikat.
Sejumlah perusahaan AI terkemuka mulai mengingatkan risiko yang muncul dari percepatan pengembangan teknologi tersebut.
Anthropic, misalnya, memperingatkan bahwa model AI paling mutakhir semakin mendekati titik di mana mereka berpotensi mengembangkan kemampuan baru tanpa pengawasan manusia secara langsung.
Perusahaan itu bahkan menyerukan perlunya memperlambat atau menghentikan sementara pengembangan model AI yang lebih kuat hingga tersedia mekanisme pengawasan yang memadai.
Perdebatan mengenai keamanan AI tersebut kini menjadi salah satu isu utama di Amerika, bersamaan dengan kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap lapangan kerja, keamanan nasional, dan stabilitas sosial.
Perebutan Otak Terbaik Dunia
Fenomena berpindahnya para ilmuwan AI dari Amerika ke China menunjukkan bahwa persaingan teknologi global kini tidak lagi hanya ditentukan oleh kepemilikan chip tercanggih atau besarnya investasi.
Pertarungan sesungguhnya terjadi dalam perebutan talenta terbaik dunia.
Teknologi dapat dibeli, pabrik dapat dibangun, dan modal dapat dicari. Namun ilmuwan yang mampu melahirkan terobosan baru adalah aset yang jauh lebih sulit digantikan.
Karena itu, arus perpindahan para peneliti AI dari Silicon Valley ke perusahaan-perusahaan teknologi China menjadi sinyal bahwa perlombaan menuju AGI telah memasuki babak baru.
Dan dalam babak ini, China tampaknya tidak lagi sekadar mengejar. Negeri itu mulai menantang posisi Amerika Serikat sebagai pusat inovasi kecerdasan buatan dunia. []