Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono. Foto/Antara/Fikri Yusuf
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Koperasi Desa Merah Putih tidak hanya akan menjadi pusat ekonomi pedesaan, tetapi juga disiapkan sebagai simpul distribusi hasil perikanan nasional. Melalui kolaborasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan, hasil tangkapan nelayan dari Kampung Nelayan Merah Putih nantinya dapat langsung ditampung dan dipasarkan melalui jaringan koperasi desa.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi besar pemerintah membangun ekosistem perikanan nasional dari hulu hingga hilir, sekaligus memperkuat posisi nelayan dalam rantai ekonomi yang selama ini masih didominasi oleh perantara.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) akan menjadi salah satu unit yang terintegrasi dengan Koperasi Desa Merah Putih, khususnya di wilayah-wilayah pesisir.
Melalui skema tersebut, hasil tangkapan nelayan tidak lagi hanya bergantung pada jalur pemasaran konvensional, tetapi dapat langsung ditampung dan didistribusikan melalui koperasi desa yang berada di sekitar kawasan pesisir.
“Kalau dia (KDMP) yang dekat dengan desa pesisir, itu salah satu unitnya adalah Kampung Nelayan Merah Putih ini. Jadi hasil produksinya ini bisa ditampung atau bisa diambil oleh Koperasi Desa Merah Putih,” ujar Trenggono dalam Economic Update 2026 CNBC Indonesia bertema Capaian Kinerja dan Arah Penguatan Program Prioritas Kementerian, Rabu (24/6/2026).
Menurut Trenggono, integrasi tersebut tidak hanya bertujuan memperkuat pemasaran hasil tangkapan nelayan, tetapi juga membangun ekosistem perikanan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Dengan adanya keterhubungan antara nelayan, kampung pesisir, koperasi, hingga pasar, pemerintah berharap distribusi hasil perikanan menjadi lebih efektif, rantai pasok lebih pendek, dan nilai ekonomi yang diterima nelayan semakin besar.
Selain memperkuat aspek distribusi, pemerintah juga terus mendorong modernisasi armada perikanan nasional.
KKP menargetkan pembangunan 1.582 kapal perikanan modern hingga tahun 2028. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.000 unit merupakan kapal berkapasitas 30 gross ton (GT) yang dirancang untuk mendukung peningkatan produktivitas nelayan sekaligus menjaga kualitas hasil tangkapan.
Trenggono menjelaskan, kapal-kapal modern tersebut akan dilengkapi berbagai fasilitas pendukung seperti alat pencari ikan (fish finder), sistem pendingin (freezer), hingga fasilitas penanganan hasil tangkapan yang lebih baik.
“Nah, kita dengan melakukan modernisasi ini harapannya sebetulnya di situ ada fasilitas, ada fish findernya, terus kemudian sudah ada freezernya, dan seterusnya. Harapannya nanti penangkapan juga penangkapan yang ramah lingkungan,” katanya.
Ia menilai modernisasi menjadi kebutuhan mendesak mengingat sebagian besar armada nelayan Indonesia saat ini masih menggunakan kapal kayu berukuran kecil dengan teknologi yang terbatas.
Mayoritas nelayan, lanjutnya, masih mengoperasikan kapal di bawah 5 GT yang hanya memungkinkan aktivitas melaut selama satu hingga dua hari. Kondisi tersebut membatasi jangkauan penangkapan sekaligus memengaruhi kualitas ikan yang dibawa pulang ke darat.
Melalui program modernisasi armada, pemerintah berharap nelayan memiliki sarana produksi yang lebih aman, lebih efisien, serta memenuhi standar operasional yang lebih baik.
Sebanyak 1.000 unit kapal berkapasitas 30 GT tersebut rencananya akan ditempatkan di 1.000 Kampung Nelayan Merah Putih yang tersebar di berbagai daerah pesisir Indonesia.
Pemerintah meyakini keberadaan kapal modern yang terintegrasi dengan koperasi desa akan menjadi fondasi penting dalam membangun ekonomi masyarakat pesisir yang lebih kuat dan berdaya saing.
Untuk mempercepat realisasi program tersebut, KKP juga menggandeng Kementerian Pertahanan melalui Badan Logistik Pertahanan dalam proses pembangunan armada perikanan modern.
Sebagai tahap awal, pemerintah menargetkan 50 unit kapal modern dapat diselesaikan pada akhir 2026. Selanjutnya, pembangunan akan dipercepat pada periode 2027 hingga 2028 guna mencapai target keseluruhan sebanyak 1.582 unit kapal.
Kolaborasi antara Kampung Nelayan Merah Putih, Koperasi Desa Merah Putih, dan modernisasi armada perikanan ini diharapkan menjadi tonggak baru pembangunan sektor kelautan dan perikanan nasional.
Bagi pemerintah, keberhasilan program tersebut bukan hanya soal meningkatkan produksi ikan, tetapi juga menciptakan sistem ekonomi pesisir yang lebih terintegrasi, memperkuat ketahanan pangan nasional, serta meningkatkan kesejahteraan jutaan nelayan Indonesia yang selama ini menjadi tulang punggung sektor perikanan nasional.[am]
