
Ilustrasi/mediasurak.id/AI
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Tekanan kenaikan harga kebutuhan pokok di Aceh belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) pada Juni 2026 mencapai 5,84 persen, dipicu lonjakan harga sejumlah komoditas pangan, emas perhiasan, hingga bahan bakar minyak (BBM).
Kenaikan harga tersebut turut dirasakan di seluruh daerah yang menjadi wilayah penghitungan inflasi di Aceh, dengan Kabupaten Aceh Tengah mencatat tingkat inflasi tertinggi.
Pelaksana Harian (Plh.) Kepala BPS Aceh, Abd. Hakim, mengatakan komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan berasal dari kelompok kebutuhan sehari-hari yang langsung bersentuhan dengan pengeluaran rumah tangga.
“Komoditas yang paling besar memberikan andil terhadap inflasi tahunan adalah nasi dengan lauk sebesar 0,54 persen, diikuti emas perhiasan 0,53 persen, beras 0,51 persen, cabai merah 0,33 persen, dan bensin 0,24 persen,” ujar Abd. Hakim dalam keterangan resminya, Rabu (1/7/2026).

Plh Kepala BPS Aceh, Abd. Hakim
Menurutnya, seluruh daerah yang menjadi cakupan penghitungan inflasi di Aceh mengalami kenaikan indeks harga konsumen selama Juni 2026.
Kabupaten Aceh Tengah mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 7,25 persen, disusul Kabupaten Aceh Tamiang sebesar 6,45 persen. Sementara itu, Kota Banda Aceh mengalami inflasi sebesar 5,54 persen dan Kota Lhokseumawe sebesar 5,07 persen. Adapun inflasi terendah terjadi di Meulaboh dengan angka 3,89 persen.
Selain tekanan harga secara tahunan, Aceh juga mengalami inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 0,56 persen dibandingkan Mei 2026. Pada periode ini, kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar terhadap kenaikan harga.
“Kelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 2,75 persen dengan andil sebesar 0,27 persen terhadap inflasi bulanan,” kata Abd. Hakim.
BPS mencatat, kenaikan harga bensin menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan andil mencapai 0,20 persen. Selanjutnya disusul cabai merah sebesar 0,18 persen, bawang merah 0,07 persen, ikan dencis 0,04 persen, dan beras sebesar 0,04 persen.
Berdasarkan wilayah, inflasi bulanan juga terjadi di seluruh daerah penghitungan inflasi di Aceh. Kabupaten Aceh Tamiang mencatat inflasi tertinggi sebesar 0,79 persen, diikuti Kabupaten Aceh Tengah 0,74 persen, Kota Banda Aceh 0,56 persen, dan Kota Lhokseumawe 0,28 persen.
Data BPS tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga di Aceh masih didominasi kenaikan harga kebutuhan pokok, energi, dan biaya transportasi. Kondisi ini berpotensi meningkatkan beban pengeluaran rumah tangga apabila kenaikan harga berbagai komoditas strategis belum dapat dikendalikan dalam beberapa bulan ke depan.
[Raudhah]



