
Messi seperti dalam mimpi rival dengan Yamal di final Piala Dunia 2026.Reuter
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Sepak bola kerap melahirkan kisah-kisah yang sulit dijelaskan dengan logika. Ada yang berawal dari mimpi seorang anak, ada pula yang lahir dari sebuah momen sederhana yang nyaris terlupakan. Bagi Lionel Messi dan Lamine Yamal, kisah itu bermula dari sebuah bak mandi kecil pada 2007. Hampir dua puluh tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di panggung terbesar sepak bola dunia: final Piala Dunia 2026.
Takdir seolah menulis naskah yang tak pernah terpikirkan oleh siapa pun.
Kala itu, Messi yang baru berusia 20 tahun mengikuti sesi pemotretan amal bersama UNICEF. Dalam salah satu foto, pemain muda Barcelona itu terlihat memandikan seorang bayi berusia enam bulan bernama Lamine Yamal.
Foto tersebut sempat tersimpan sebagai dokumentasi biasa. Namun, ketika kembali beredar di media sosial beberapa bulan terakhir, gambar itu berubah menjadi simbol perjalanan waktu yang luar biasa.
Kini, bayi yang dulu digendong Messi telah tumbuh menjadi salah satu bintang paling bersinar di sepak bola dunia. Lamine Yamal menjadi tulang punggung Timnas Spanyol sekaligus sosok yang membawa La Furia Roja melaju hingga partai final Piala Dunia 2026.
Ironisnya, lawan yang akan dihadapinya adalah pria yang pernah memandikannya saat masih bayi.
Messi sendiri mengaku sulit mempercayai bagaimana hidup mempertemukan mereka kembali dalam situasi yang sama sekali berbeda.
“Sejujurnya foto itu adalah hal gila. Begitulah kehidupan. Saya berada dalam foto itu ketika dia masih bayi,” kata kapten Argentina, dikutip dari Marca.
Baginya, perjalanan hidup memang sering menghadirkan kejutan yang tak dapat diprediksi.
“Dan kami akan berhadapan satu sama lain di Piala Dunia. Jujur, yang saya katakan adalah ini hal gila,” ujar peraih delapan Ballon d’Or tersebut.
Ucapan Messi mencerminkan kekaguman sekaligus keheranan terhadap cara waktu bekerja. Dua puluh tahun lalu, ia adalah pemuda yang baru mulai menapaki jalan menuju status legenda. Kini, di penghujung kariernya, ia justru harus menghadapi generasi baru yang tumbuh dengan menjadikan dirinya sebagai inspirasi.
Yamal menjadi salah satu simbol lahirnya generasi baru sepak bola dunia. Meski baru berusia 19 tahun, kemampuannya mengolah bola, membaca permainan, dan tampil tenang di laga-laga besar membuatnya disebut-sebut sebagai calon penerus era Messi dan Cristiano Ronaldo.
Menariknya, Messi sama sekali tidak pelit memberikan pujian kepada pemain muda tersebut.
“Lamine adalah pemain hebat dan saya memerhatikannya karena dia bermain di klub yang saya cintai,” katanya.
Bagi Messi, Yamal bukan hanya pemain muda berbakat, tetapi juga aset masa depan Barcelona, klub yang telah menjadi rumahnya selama lebih dari dua dekade.
“Saya berharap yang terbaik untuknya. Dia adalah salah satu pemain paling penting di dunia meski baru berusia 19 tahun,” ujarnya.
Kisah Messi dan Yamal sesungguhnya lebih dari sekadar cerita olahraga. Ia menjadi gambaran tentang pergantian generasi yang berjalan begitu indah. Sang legenda belum sepenuhnya meninggalkan panggung, sementara calon pewarisnya telah tiba untuk menantang sejarah.
Final Piala Dunia 2026 di Stadion Los Angeles, Senin (20/7) dini hari WIB, karena itu bukan hanya mempertemukan Argentina dan Spanyol dalam perebutan trofi dunia. Pertandingan tersebut juga menjadi pertemuan dua zaman—antara seorang legenda yang telah menorehkan hampir seluruh pencapaian dalam sepak bola dan seorang bintang muda yang baru memulai perjalanan menuju keabadian.
Barangkali, inilah keindahan sepak bola yang sesungguhnya. Sebuah foto sederhana di sudut ruang pemotretan pada 2007 ternyata bukan sekadar kenangan, melainkan awal dari kisah yang baru dipahami maknanya hampir dua puluh tahun kemudian. Dari sebuah bak mandi kecil, takdir membawa Lionel Messi dan Lamine Yamal berdiri berhadapan di panggung paling megah yang dimiliki olahraga ini—final Piala Dunia.[HH]



