
Markas militer Mesir, Oktagon, terbesar di dunia menelan biaya Rp 1.026 triliun.
MEDIASURAK.ID, KAIRO – Mesir mengirim sinyal kuat kepada dunia dengan meresmikan Oktagon, kompleks markas militer raksasa yang disebut-sebut melampaui Pentagon Amerika Serikat sebagai markas pertahanan terbesar di dunia. Megaproyek yang berdiri di ibu kota administratif baru Mesir itu dipandang bukan sekadar pembangunan infrastruktur, melainkan simbol ambisi Kairo memperkuat posisi strategisnya di tengah kawasan Timur Tengah yang terus bergejolak.
Peresmian kompleks militer tersebut berlangsung dalam upacara megah yang dipimpin langsung Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi. Dalam momen yang menarik perhatian dunia, mantan panglima militer itu tampil mengenakan seragam militer untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade sejak menjabat sebagai kepala negara.
El-Sisi menyebut Oktagon sebagai bukti tekad bangsa Mesir untuk mewujudkan cita-cita besar.
“Ini adalah bukti kemauan sebuah bangsa yang tidak mengenal sesuatu yang mustahil,” ujarnya dalam pidato peresmian.
Kedatangannya menuju lokasi bahkan dikawal helikopter serang, mempertegas nuansa militer dalam seremoni tersebut.
Berbeda dengan Pentagon di Amerika Serikat yang memiliki lima sisi, Oktagon terdiri atas delapan bangunan utama dengan desain segi delapan yang saling terhubung. Kompleks itu berdiri di atas lahan sekitar 90 kilometer persegi, luas yang hampir menyamai wilayah Kota Lisbon, Portugal.
Oktagon dibangun sebagai pusat komando terpadu Angkatan Bersenjata Mesir. Di dalamnya terdapat fasilitas untuk Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, Pertahanan Udara, hingga pusat kendali operasi dan komunikasi militer modern yang dirancang menghadapi tantangan peperangan abad ke-21.
Keberadaan markas baru tersebut mempertegas transformasi militer Mesir dalam satu dekade terakhir. Negara itu terus memodernisasi persenjataannya melalui pembelian pesawat tempur, kapal perang, sistem pertahanan udara, hingga peningkatan kemampuan pasukan khusus.
Secara geopolitik, posisi Mesir memang berada di kawasan yang sangat strategis sekaligus rawan konflik. Di timur, perang Gaza masih berlangsung. Di selatan, Sudan dilanda perang saudara. Sementara di barat, Libya belum sepenuhnya keluar dari konflik berkepanjangan. Selain itu, keamanan Terusan Suez dan Laut Merah menjadi kepentingan vital yang harus dijaga karena merupakan salah satu jalur perdagangan internasional terpenting di dunia.
Karena itu, banyak pengamat menilai Oktagon bukan sekadar gedung baru, melainkan pusat koordinasi strategis yang akan memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas kawasan.
Namun, proyek prestisius tersebut juga menuai kritik. Pembangunan kawasan ibu kota administratif baru, termasuk berbagai fasilitas strategis di dalamnya, diperkirakan menelan biaya sekitar US$57 miliar atau sekitar Rp1.026 triliun.
Nilai investasi yang sangat besar itu muncul ketika Mesir masih menghadapi tekanan ekonomi, inflasi tinggi, serta utang luar negeri yang telah mencapai sekitar US$163,5 miliar. Sejumlah kalangan menilai proyek-proyek raksasa pemerintah menjadi salah satu faktor yang memperberat kondisi fiskal negara.
Terlepas dari kritik tersebut, peresmian Oktagon menandai babak baru dalam strategi pertahanan Mesir. Lebih dari sekadar memecahkan rekor Pentagon sebagai markas militer terbesar, Oktagon menjadi simbol ambisi Kairo untuk menegaskan dirinya sebagai salah satu kekuatan militer utama di Afrika dan Timur Tengah.[hh]



