Korban Gempa NTT
MEDIASURAT.ID, KUPANG — Penanganan dampak gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 masih berlangsung. Hingga Jumat (28/8), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 111 orang meninggal dunia, 1.674 orang mengalami luka-luka, dan 175.909 warga masih mengungsi.
Data penanganan darurat BNPB per 28 Agustus menunjukkan gempa berdampak pada tujuh kabupaten, yakni Nagekeo, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Sikka, Ende, dan Ngada.
Jumlah pengungsi terbanyak berada di Kabupaten Nagekeo sebanyak 51.284 orang, disusul Manggarai 50.556 orang, Manggarai Timur 31.372 orang, Manggarai Barat 27.564 orang, Sikka 7.557 orang, Ende 4.317 orang, dan Ngada 3.259 orang.
Sementara itu, korban meninggal tersebar di Manggarai sebanyak 45 orang, Manggarai Timur 38 orang, Nagekeo 13 orang, Sikka enam orang, Ngada lima orang, Ende tiga orang, dan Manggarai Barat satu orang.
Hampir 89 Ribu Bangunan Terdampak
Dampak gempa juga meluas ke permukiman dan fasilitas publik.
BNPB mencatat 88.993 bangunan terdampak, terdiri atas 87.828 rumah, 188 fasilitas pelayanan kesehatan, 532 kantor, dan 515 rumah ibadah.
Selain bangunan, jaringan jalan dan irigasi juga mengalami kerusakan. BNPB mencatat sedikitnya 206 titik jaringan jalan dan irigasi terdampak di tujuh kabupaten tersebut.
Sebagian Pengungsi Mulai Kembali
Jumlah warga yang bertahan di posko pengungsian mulai mengalami penurunan di sejumlah wilayah.
BNPB sebelumnya mencatat 176.621 warga masih berada di pengungsian pada 27 Agustus. Sebagian warga mulai meninggalkan posko secara sukarela, terutama mereka yang rumahnya dinilai masih kuat dan aman untuk ditempati.
BNPB mengimbau warga yang rumahnya masih utuh setelah gempa utama dan gempa susulan dapat kembali ke rumah masing-masing. Pemerintah tetap menyalurkan makanan dan kebutuhan pokok bagi warga yang memilih kembali ke rumah.
Gempa Susulan Masih Terjadi
Kondisi di NTT juga masih perlu diwaspadai karena aktivitas gempa susulan terus terjadi.
Hingga 27 Agustus, tercatat 8.193 gempa susulan, dengan gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 6,2. Sebanyak 146 gempa susulan dilaporkan dirasakan masyarakat.
Masyarakat terdampak diminta tetap mengikuti informasi dan arahan resmi pemerintah serta tidak mudah mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya.
Lewotobi Kembali Erupsi
Di tengah penanganan dampak gempa, aktivitas vulkanik juga terjadi di wilayah NTT.
Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur kembali erupsi pada Jumat (28/8) pagi. Badan Geologi Kementerian ESDM melaporkan erupsi terjadi pukul 07.35 WITA dan berlangsung sekitar enam menit.
Kolom abu teramati mencapai sekitar 1 kilometer di atas puncak, dengan arah angin membawa abu ke barat daya dan barat.
Gunung Lewotobi Laki-laki saat ini masih berstatus Level III atau Siaga. Masyarakat dan wisatawan dilarang melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi.
Badan Geologi juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi banjir lahar hujan pada sungai-sungai yang berhulu di Gunung Lewotobi apabila terjadi hujan lebat.
Dengan masih berlangsungnya gempa susulan dan aktivitas vulkanik di sejumlah wilayah, pemerintah daerah bersama BNPB dan instansi terkait terus melakukan penanganan darurat serta pemulihan bagi masyarakat terdampak.
Hingga kini, fokus utama penanganan tetap pada keselamatan warga, pemenuhan kebutuhan pengungsi, serta percepatan pemulihan rumah dan fasilitas umum yang rusak akibat gempa.[]




