Pekerja sedang membangun jalan-jalan yang rusak di Tebet dan Nepal.
MEDIASURAK.ID, KATHMANDU — Korban tewas akibat banjir bandang dan longsor yang melanda kawasan Himalaya di perbatasan Nepal-Tibet terus bertambah. Hingga Selasa (1/9), sedikitnya 1.066 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 4.462 lainnya masih dinyatakan hilang.
Di Nepal, otoritas melaporkan 1.050 orang telah ditemukan meninggal dan 3.916 orang masih hilang. Dari jumlah tersebut, 583 merupakan warga negara asing. Sementara di wilayah Tibet, China melaporkan 16 orang tewas dan 546 lainnya masih hilang.
Bencana terjadi pada 26 Agustus setelah runtuhnya gletser dan batuan di kawasan pegunungan tinggi Himalaya memicu aliran besar es, lumpur, batu dan air ke lembah-lembah di bawahnya.
Aliran material tersebut menerjang wilayah perbatasan Nepal-China dan menghancurkan permukiman, jalan, jembatan serta sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air.
Di Nepal, tim penyelamat masih menyisir wilayah yang tertutup material longsoran. Helikopter, alat berat, anjing pelacak dan tim khusus dikerahkan untuk mencari korban yang masih hilang.
Salah satu lokasi yang menjadi fokus pencarian adalah proyek pembangkit listrik tenaga air. Ratusan pekerja dilaporkan masih terjebak atau belum diketahui keberadaannya setelah fasilitas tersebut diterjang banjir dan material longsoran.
Operasi penyelamatan terkendala kondisi geografis. Sejumlah jalan dan jembatan hancur, sementara tim penyelamat harus menghadapi medan yang masih tidak stabil serta timbunan material dalam jumlah besar.
Di Tibet, upaya pencarian juga terus dilakukan di kawasan Gyirong. Pemerintah China mengerahkan lebih dari 2.000 personel untuk mencari korban, memperbaiki jalan, memulihkan jaringan komunikasi dan listrik, serta menyalurkan bantuan kepada warga terdampak.
Bencana tersebut juga berdampak hingga India. Sedikitnya 17 jenazah telah ditemukan dari sungai-sungai di wilayah India yang dialiri air dari Nepal. Identifikasi terhadap jenazah masih dilakukan.
Para ilmuwan menyebut runtuhnya gletser sebagai pemicu utama bencana. Material es dan batu yang jatuh ke lembah kemudian membendung aliran sungai sebelum menghasilkan gelombang banjir besar ke wilayah hilir. Analisis awal menunjukkan peristiwa tersebut menghasilkan aktivitas seismik setara magnitudo 5,2, tetapi bukan disebabkan oleh gempa bumi tektonik.
Para ahli juga memperingatkan meningkatnya risiko bencana di Himalaya seiring pemanasan global yang mempercepat pencairan gletser. Kondisi tersebut dapat meningkatkan ancaman banjir bandang, longsor, runtuhnya gletser dan bencana terkait danau glasial di kawasan pegunungan.
Hingga kini, operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung di Nepal dan Tibet. Pemerintah kedua wilayah memprioritaskan evakuasi warga, pencarian korban hilang, pemulihan akses transportasi serta penyaluran bantuan ke daerah yang masih terisolasi.[]




