KDMP Panerusan Wetan, Banjarnegar, Jateng.
MEDIASURAK.ID, BANJARNEGARA – Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Panerusan Wetan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, menunjukkan bagaimana koperasi dapat menjadi penggerak ekonomi dari tingkat paling bawah. Berawal dari modal Rp18 juta saat dibentuk pada Agustus 2025, koperasi ini kini mengklaim telah membukukan keuntungan hingga Rp625 juta, sementara jumlah anggotanya melonjak dari 314 menjadi 525 orang.
Pertumbuhan tersebut berjalan bersamaan dengan manfaat yang mulai dirasakan warga. Petani lebih mudah memperoleh pupuk bersubsidi dan kebutuhan produksi, sementara pelaku UMKM mendapat akses pasar yang lebih luas.
Bahkan, salah satu pelaku usaha kopi di desa tersebut mengaku penjualannya meningkat lebih dari dua kali lipat setelah kehadiran KDMP.
Desa Panerusan Wetan merupakan salah satu dari 15 desa di Kecamatan Susukan. Dengan luas wilayah sekitar 2,99 kilometer persegi dan penduduk 3.215 jiwa, mayoritas masyarakatnya menggantungkan hidup dari sektor pertanian, termasuk padi, jagung dan kopi.
Bagi Suhardi, petani padi setempat, manfaat paling terasa adalah akses terhadap pupuk bersubsidi yang kini lebih dekat.
Sebelum KDMP beroperasi, ia harus pergi sekitar lima kilometer ke Pasar Purwareja Klampok untuk memperoleh pupuk. Selain membutuhkan biaya transportasi, harga yang harus dibayar juga relatif lebih tinggi.
“Sejak ada Koperasi Desa Merah Putih di Desa Panerusan Wetan, kami sangat terbantu. Kalau mau beli pupuk, enggak usah jauh-jauh lagi, harga juga lebih murah,” kata Suhardi, Rabu (19/8/2026).
Menurut Suhardi, sebelumnya harga pupuk yang diperolehnya bisa lebih dari Rp8.000 per kilogram. Kini pupuk tersedia di KDMP dengan harga sekitar Rp8.000 per kilogram.
Kemudahan juga dirasakan dalam proses pembelian pupuk bersubsidi.
“Semenjak ada KDMP, kalau mau beli pupuk, tinggal beli saja, jadi makin mudah,” ujarnya.
Dari Kopi Lokal ke Peluang Pasar Ekspor
Cerita berbeda datang dari Eko, pelaku UMKM yang menjual kopi robusta. Kehadiran KDMP membuka peluang pemasaran yang sebelumnya sulit dijangkau.
Sebelum ada koperasi, Eko mengaku hanya mampu menjual sekitar 3–5 kilogram kopi per hari dengan pendapatan sekitar Rp600.000.
Kini penjualannya meningkat menjadi sekitar tujuh kilogram per hari dengan pendapatan yang disebut mencapai Rp1,5 juta.
“Sejak ada KDMP, ada kenaikan penjualan, jadi 7 kg per hari. Bahkan juga sempat ada permintaan dari Australia,” kata Eko.
Kopi yang dijual Eko berasal dari petani di kawasan Pegunungan Sitata. Potensi komoditas tersebut menjadi salah satu kekuatan ekonomi lokal yang coba dikembangkan melalui koperasi.
Data BPS menunjukkan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan memang menjadi salah satu penopang utama perekonomian Banjarnegara. Secara nasional, BPS juga mencatat kopi merupakan komoditas perkebunan penting Indonesia, dengan data produksi, luas areal, serta perdagangan kopi yang terus menjadi bagian penting sektor perkebunan.
Di tingkat lokal, koperasi Panerusan Wetan sebelumnya juga telah dikembangkan dengan menggarap komoditas gula semut dan kopi robusta, selain menjalankan distribusi pupuk bersubsidi, gerai kebutuhan pokok, pergudangan, logistik, LPG dan produk UMKM.
Modal Kecil, Aktivitas Usaha Membesar
Kepala KDMP Panerusan Wetan Adi Wibowo mengatakan koperasi dibentuk pada 17 Agustus 2025 dengan modal awal sekitar Rp18 juta.
Seiring perkembangan usaha, keuntungan yang dibukukan meningkat. Pada November 2025, Adi menyebut koperasi telah memperoleh keuntungan sekitar Rp200 juta. Setelah berjalan sekitar satu tahun, angkanya disebut mencapai Rp625 juta.
“Modal awal di 17 Agustus tahun lalu itu sekitar Rp18 juta, sekarang sudah mendapatkan keuntungan hingga Rp625 juta,” kata Adi.
Pertumbuhan usaha tersebut juga diikuti meningkatnya kepercayaan masyarakat. Jumlah anggota aktif yang sebelumnya 314 orang kini mencapai 525 orang, termasuk petani dan pelaku UMKM.
“Alhamdulillah, kepercayaan itu masih terjadi hingga kini. Sekarang KDMP di sini anggotanya sudah mencapai 525, termasuk para petani dan UMKM,” ujarnya.
Bagi Adi, bertambahnya anggota menjadi indikator bahwa koperasi mulai diterima sebagai bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat.
Bukan Sekadar Tempat Jual Beli
Sekretaris Daerah Kabupaten Banjarnegara Hendro Cahyono SE MSi mengatakan koperasi desa memiliki dua fungsi strategis: menghidupkan kembali semangat kekeluargaan dan gotong royong sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat.
“Koperasi dapat menjadi wadah untuk menghidupkan kembali semangat tersebut sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat,” ujarnya.
Menurut Hendro, setiap wilayah di Banjarnegara memiliki karakter dan komoditas unggulan berbeda, mulai dari sayuran, kopi, peternakan hingga berbagai hasil pertanian lainnya.
Karena itu, koperasi tidak cukup hanya menjadi tempat transaksi. Potensi lokal harus dikembangkan menjadi rantai usaha yang menghubungkan petani, koperasi, UMKM hingga konsumen.
Digitalisasi juga mulai diarahkan untuk memperluas pasar. Produk desa tidak lagi harus dijual secara konvensional dari satu tempat ke tempat lain, tetapi dapat dipasarkan melalui platform daring.
Dengan pola tersebut, koperasi diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai distributor kebutuhan masyarakat, tetapi juga menjadi agregator produk lokal.
Bagi petani, manfaatnya berupa akses sarana produksi yang lebih mudah. Bagi UMKM, koperasi dapat membuka akses pasar. Sementara bagi desa, aktivitas tersebut menciptakan perputaran ekonomi yang lebih besar di lingkungan sendiri.
Panerusan Wetan menunjukkan bahwa koperasi dapat tumbuh ketika mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat: pupuk tersedia lebih dekat, kebutuhan pokok lebih mudah diperoleh, produk UMKM memiliki saluran pemasaran, dan komoditas lokal mulai mendapat peluang menembus pasar yang lebih luas.
Dari modal awal Rp18 juta, kini KDMP Panerusan Wetan mengklaim telah membukukan keuntungan Rp625 juta.
Yang lebih penting, di balik angka tersebut terdapat 525 anggota yang ikut bergerak bersama koperasi.
Di situlah ukuran keberhasilan koperasi desa seharusnya tidak hanya dihitung dari besarnya keuntungan, tetapi dari seberapa jauh keuntungan dan aktivitas usaha itu kembali menggerakkan ekonomi masyarakat.[]




