
MEDIASURAK.ID, Kualasimpang — Industri perhotelan di Aceh Tamiang berada dalam situasi paradoks: tamu membludak, tapi hotel belum siap. Akibatnya, banyak pengunjung—termasuk relawan dan staf lembaga—memilih tinggal di kamar kos.
Bencana banjir bandang 26 November 2025 yang dipicu siklon hidrometeorologi meninggalkan kerusakan berat pada hotel-hotel. Hingga kini, pemulihan berjalan lambat karena keterbatasan anggaran dan skala kerusakan.
Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Aceh Tamiang menyebut sektor pariwisata sempat lumpuh total.
“Dampaknya luar biasa, bisa dikatakan lumpuh,” ujar Kadis, Muhammad Farij.
Okupansi Tinggi, Kapasitas Tertinggal
Menariknya, tingkat kunjungan justru meningkat pascabencana. Namun profil tamu berubah drastis: bukan wisatawan, melainkan relawan, pejabat, dan tim pemulihan.
Masalahnya, kapasitas hotel belum pulih.
“Kunjungan tinggi, tapi hotel belum sepenuhnya ready,” kata Farij.
Akibatnya, banyak kamar sudah dipesan instansi dari luar daerah—bahkan sebelum relawan atau pekerja lapangan tiba.
Kost Jadi Solusi Darurat
Fenomena baru pun muncul: pergeseran dari hotel ke kos.
Pengelola Hostel Cemerlang, Roni Faslah Sitakar, mengaku tempatnya nyaris tak pernah kosong.
“Sering kami tolak tamu karena kamar penuh,” ujarnya.
Padahal, fasilitas belum sepenuhnya pulih. Namun tamu memaklumi—karena pilihan terbatas.
Di sisi lain, banyak relawan memilih solusi lebih hemat dan pasti: menyewa kos bulanan.
Riki, staf organisasi internasional, mengaku timnya kini meninggalkan hotel.
“Sekarang lebih irit kos. Langsung ambil tiga bulan,” katanya.
Efisiensi biaya dan kepastian tempat tinggal menjadi alasan utama. Meski tidak selalu ditempati penuh, kos tetap dianggap lebih ekonomis dibanding hotel.
Ekonomi Bergerak, Infrastruktur Tertinggal
Situasi ini memperlihatkan kontradiksi: aktivitas ekonomi mulai hidup, tetapi infrastruktur belum pulih.
Hotel yang rusak membutuhkan investasi besar untuk kembali normal, sementara permintaan kamar datang lebih cepat dari kemampuan pemulihan.
Akibatnya, peluang ekonomi justru bocor ke sektor informal seperti kos-kosan.
Fasilitas Olahraga Hancur, Event Berguguran
Dampak banjir tak hanya memukul hotel, tetapi juga fasilitas olahraga. Aceh Tamiang dipastikan gagal menjadi tuan rumah sejumlah event besar.
Beberapa agenda yang batal:
- Pra PORA cabang sepeda
- Pencak silat
- Sepak bola Piala Kemenpora
Kerusakan parah melanda Tamiang Sport Center dan Stadion Aceh Tamiang—dari atap, ruangan, hingga lapangan yang tertutup lumpur tebal.
“Kita tidak bisa melaksanakan kegiatan apapun,” kata Farij.
Upaya pembersihan sudah dilakukan, termasuk koordinasi dengan pihak swasta untuk pengerahan alat berat. Namun pemulihan total masih jauh.
Pemulihan Setengah Jalan
Aceh Tamiang kini berada di fase transisi:
aktivitas mulai kembali, tapi fondasi belum pulih.
Hotel penuh, tapi belum layak.
Event ada, tapi tak bisa digelar.
Tanpa percepatan rehabilitasi, kondisi ini berisiko berlarut—dan peluang ekonomi yang datang justru tak bisa dimaksimalkan.[dk]
