
Ilustrasi.net
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH — Harga minyak dunia kembali melonjak tajam di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kegagalan perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Ketegangan geopolitik yang terus memanas membuat pasokan energi global berada di ambang krisis, terutama akibat terganggunya jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Pada penutupan perdagangan Jumat (22/5/2026), harga minyak Brent naik 0,94% menjadi US$103,54 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat ke US$96,60 per barel. Bahkan dalam sesi perdagangan, kedua kontrak sempat melesat lebih dari 3% sebelum akhirnya sedikit terkoreksi.
Lonjakan harga ini dipicu kekhawatiran bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah akan semakin memperparah gangguan distribusi minyak dunia. Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur sekitar 20% pasokan energi global masih mengalami hambatan serius akibat ketegangan Iran-AS.
Analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, menyebut pasar minyak kini dibanjiri spekulasi dan perubahan informasi yang bergerak sangat cepat. Investor disebut kesulitan membaca arah negosiasi karena setiap perkembangan diplomatik langsung mempengaruhi harga minyak dunia.
Meski sejumlah pejabat AS dan Iran mulai mengirim sinyal positif terkait peluang kesepakatan, pasar tetap belum yakin situasi akan segera membaik. Persoalan uranium Iran, sanksi ekonomi, hingga penguasaan Selat Hormuz masih menjadi titik konflik utama yang belum menemukan jalan keluar.
Kondisi ini membuat dunia mulai dihantui ancaman inflasi energi baru. Fitch Solutions melalui BMI bahkan menaikkan proyeksi rata-rata harga minyak Brent 2026 menjadi US$90 per barel dari sebelumnya US$81,50. Kenaikan itu dipicu menyusutnya cadangan minyak global, kerusakan infrastruktur energi Teluk, serta lambatnya proses normalisasi pasokan pascakonflik.
Lembaga Energi Internasional (IEA) juga memperingatkan stok minyak dunia turun ke level rekor akibat perang berkepanjangan di Timur Tengah. Bahkan lebih dari 80 fasilitas energi dilaporkan rusak selama konflik berlangsung dan pemulihannya diperkirakan membutuhkan waktu hingga dua tahun.
Goldman Sachs memperkirakan gangguan produksi di kawasan Teluk Persia telah mengurangi sekitar 14,5 juta barel minyak per hari dari pasar global. Dampaknya, stok minyak dunia disebut telah terkuras hampir 500 juta barel dan berpotensi mencapai 1 miliar barel dalam beberapa bulan ke depan.
Situasi semakin rumit karena perang Rusia-Ukraina juga belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Serangan terhadap kilang minyak Rusia dan sanksi Barat terus menekan ekspor energi Moskow, membuat pasokan minyak dunia semakin ketat dan harga sulit turun.
Di tengah tekanan tersebut, OPEC+ memang berencana menambah produksi minyak secara bertahap. Namun banyak analis menilai langkah itu belum cukup kuat untuk menutup kekurangan pasokan global yang terus membesar akibat konflik geopolitik. [edi]