
Ilustrasi/Foto: REUTERS/Eli Hartman
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Pasar minyak global mulai bernapas lega. Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran memicu aksi jual besar-besaran di pasar minyak karena investor memperkirakan pasokan energi dari Timur Tengah akan kembali normal setelah Selat Hormuz dibuka kembali.
Pada perdagangan Selasa (16/6/2026) pagi, harga minyak mentah Brent tercatat turun 45 sen atau sekitar 0,5 persen menjadi US$80,51 per barel. Sehari sebelumnya, harga Brent telah anjlok hampir 5 persen dan ditutup pada level terendah sejak Maret 2026. Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) juga melemah menjadi sekitar US$79 per barel.
Penurunan harga terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Iran untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama lebih dari tiga bulan. Kesepakatan itu juga membuka peluang bagi dibukanya kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang selama ini dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Selama konflik berlangsung, pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz menyebabkan pasokan energi global terganggu dan mendorong harga minyak menembus US$100 per barel. Namun, prospek perdamaian membuat investor mulai yakin bahwa pasokan minyak dari kawasan Teluk akan kembali normal dalam beberapa bulan mendatang.
Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa pemulihan pasokan tidak akan terjadi secara instan. Jalur pelayaran, armada kapal tanker, hingga infrastruktur energi yang terdampak konflik membutuhkan waktu untuk kembali beroperasi secara penuh.
“Dari sini, kemungkinan akan memakan waktu beberapa minggu untuk memulihkan arus kapal tanker. Kami memperkirakan 50 persen produksi akan kembali pada September dan sekitar 80 persen pada Desember,” ujar analis Morgan Stanley, seperti dikutip Reuters.
Pandangan serupa disampaikan analis Barclays yang menilai harga minyak tidak akan langsung anjlok lebih dalam karena pasar masih menghadapi persoalan struktural, termasuk rendahnya persediaan minyak global dan proses normalisasi ekspor yang berlangsung bertahap.
Meski Trump belum mempublikasikan rincian lengkap isi kesepakatan tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah mengonfirmasi bahwa kesepakatan dengan AS memang ditujukan untuk mengakhiri konflik dan membuka ruang negosiasi lanjutan mengenai isu nuklir serta pencabutan sanksi.
Kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, sebelumnya melaporkan bahwa draf kesepakatan mencakup penghentian perang secara permanen, pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan blokade Angkatan Laut AS terhadap Iran, serta masa negosiasi selama 60 hari terkait isu nuklir dan sanksi ekonomi.
Pasar keuangan global pun langsung merespons positif. Bursa saham di Amerika Serikat dan Asia menguat, sementara saham-saham perusahaan energi cenderung melemah seiring turunnya harga minyak. Investor menilai meredanya konflik di Timur Tengah dapat mengurangi tekanan inflasi global dan memperbaiki prospek pertumbuhan ekonomi dunia.
Namun, para pelaku pasar masih menunggu penandatanganan resmi nota kesepahaman yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa pada 19 Juni mendatang. Selama rincian kesepakatan belum sepenuhnya jelas, volatilitas harga minyak diperkirakan masih akan terjadi dalam jangka pendek.[hr]