
Foto/AP/Vincent Thian
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Sistem imigrasi Malaysia mengalami gangguan besar yang melumpuhkan hampir seluruh pintu masuk negara itu pada Kamis (28/5/2026) dini hari. Akibatnya, puluhan ribu pelancong, pekerja lintas negara, dan pengguna jasa transportasi internasional terpaksa mengantre berjam-jam di berbagai pos pemeriksaan imigrasi.
Salah satu wilayah yang mengalami dampak paling parah adalah perbatasan Johor Bahru-Singapura, jalur darat tersibuk di Asia Tenggara yang setiap hari dilintasi ratusan ribu orang untuk bekerja, berbisnis, maupun berwisata.
Gangguan yang berlangsung sekitar lima jam itu membuat seluruh sistem pemeriksaan berbasis komputer tidak dapat beroperasi. Petugas imigrasi terpaksa kembali menggunakan prosedur manual untuk memproses dokumen perjalanan warga Malaysia maupun pelancong asing.
Media lokal melaporkan antrean panjang terjadi sejak dini hari hingga pagi hari, tepat ketika ribuan pekerja Malaysia berusaha menyeberang ke Singapura untuk memulai aktivitas kerja mereka.
“Kami harus mengerahkan seluruh personel tambahan untuk mengoperasikan loket manual di jalur bus, sepeda motor, dan kendaraan pribadi,” kata seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri Malaysia.
Tak hanya gerbang otomatis yang berhenti berfungsi, sistem biometrik dan pengenalan wajah yang selama ini menjadi andalan pemeriksaan imigrasi modern Malaysia juga ikut lumpuh.
Akibatnya, proses pemeriksaan yang biasanya berlangsung dalam hitungan detik berubah menjadi antrean panjang yang mengular di berbagai pintu masuk negara.
Gangguan tersebut memengaruhi sebagian besar dari 114 pos pemeriksaan imigrasi Malaysia yang terdiri atas 56 pelabuhan laut, 30 perbatasan darat, dan 28 bandara internasional maupun domestik.
Insiden ini menjadi gangguan besar kedua dalam kurun waktu hanya satu bulan. Sebelumnya, pada 23 April 2026, sistem yang sama juga mengalami kerusakan dan menyebabkan ribuan pelancong terlantar selama beberapa jam.
Direktur Jenderal Imigrasi Malaysia, Zakaria Shaaban, menjelaskan bahwa gangguan kali ini dipicu masalah teknis pada pusat data Sistem Imigrasi Malaysia (MyIMMs).
Menurutnya, tidak ditemukan indikasi serangan siber atau peretasan terhadap sistem tersebut.
“Sistem kembali beroperasi setelah perbaikan dilakukan. Sistem ini tidak diretas. Namun MyIMMs sudah berusia hampir 30 tahun sehingga gangguan seperti ini memang berpotensi terjadi,” ujarnya.
Pernyataan tersebut langsung memunculkan pertanyaan publik mengenai kesiapan infrastruktur digital Malaysia, terutama karena negara itu tengah mempersiapkan berbagai proyek konektivitas strategis, termasuk pengoperasian Sistem Transit Cepat (RTS) Johor Bahru-Singapura yang dijadwalkan mulai beroperasi tahun depan.
Pemerintah Malaysia sendiri tengah mengembangkan National Integrated Immigration System (NIISe), sebuah platform imigrasi generasi baru yang akan mengintegrasikan pemeriksaan paspor, visa, biometrik, hingga data pelancong dalam satu sistem terpadu.
Namun sistem tersebut baru ditargetkan beroperasi penuh pada 2028.
Hingga saat itu, pemerintah mengakui risiko gangguan serupa masih mungkin terjadi.
“Kami harus bertahan hingga NIISe siap digunakan sepenuhnya,” kata Zakaria.
Insiden ini memicu gelombang keluhan di media sosial. Berbagai foto dan video yang menunjukkan lautan manusia mengantre di pos pemeriksaan imigrasi Johor-Singapura serta kemacetan panjang kendaraan lintas batas langsung viral dan menjadi sorotan publik.
Banyak pekerja mengaku terlambat masuk kerja, sementara sejumlah pelancong terancam kehilangan jadwal perjalanan akibat lambatnya proses pemeriksaan.
Gangguan tersebut sekaligus menjadi peringatan keras bagi Malaysia bahwa modernisasi sistem perbatasan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga kelancaran mobilitas manusia dan aktivitas ekonomi yang.[edi]