
Camat Julok, Muhammad Ishak saat meninjau lahan warga usai terbakar, Minggu (31/5/26)
MEDIASURAK.ID, IDI – Musim kemarau baru mulai menunjukkan dampaknya di Aceh Timur. Di Kecamatan Julok, kebakaran hutan dan lahan yang dipicu cuaca panas dan diperparah kelalaian manusia menghanguskan sedikitnya tiga hektare lahan warga dalam tiga hari terakhir, memicu kekhawatiran meningkatnya ancaman karhutla di wilayah pantai timur Aceh.
Ironisnya, saat petugas pemadam kebakaran berjibaku mengendalikan kobaran api di lokasi pertama, titik kebakaran baru justru muncul akibat aktivitas pembakaran jerami oleh seorang petani. Peristiwa itu memperlihatkan bahwa selain faktor cuaca, kelalaian manusia masih menjadi pemicu utama terjadinya karhutla di wilayah tersebut.
Kebakaran terjadi di dua lokasi berbeda. Sekitar dua hektare lahan terbakar di Dusun Kubu Tungku dan satu hektare lainnya di Dusun Kuta Tuha. Api baru berhasil dipadamkan setelah armada Damkar Aceh Timur bekerja secara maraton selama berjam-jam.
Camat Julok, Muhammad Ishak, mengatakan api awalnya berasal dari gampong tetangga dan terus menjalar karena kondisi lahan yang kering.
“Awalnya api berasal dari Gampong Ujong Tunong sejak tiga hari lalu dan kemudian meluas ke Tumpok Teungoh. Saat armada Damkar memadamkan titik pertama, muncul lagi kebakaran akibat pembakaran jerami yang dilakukan seorang petani,” ujarnya, Senin (1/6/2026).
Menurutnya, kondisi cuaca panas dalam beberapa hari terakhir membuat api sangat mudah merambat ke lahan kosong, semak belukar, hingga area perkebunan warga.
Data lapangan menunjukkan lahan yang terbakar di Dusun Kubu Tungku merupakan milik almarhum Muhammad Jamil, H Budiman, dan Tgk Ridwan. Sementara di Dusun Kuta Tuha, kebakaran melanda lahan milik Tgk Muhammad Nur, Agustiar, T Mahdi, dan Muhammad Amin.
Menyikapi situasi tersebut, pemerintah kecamatan telah berkoordinasi dengan aparat kepolisian dan melaporkan kejadian itu kepada Bupati Aceh Timur. Seluruh keuchik di wilayah rawan juga diminta meningkatkan pengawasan serta memasang spanduk larangan membakar lahan.
“Kami mengimbau masyarakat menghentikan kebiasaan membakar jerami maupun sampah di lahan terbuka. Dalam kondisi kemarau seperti sekarang, percikan api kecil sekalipun bisa berkembang menjadi kebakaran besar,” tegas Ishak.
Peristiwa ini terjadi ketika suhu udara di wilayah pantai timur Aceh mencapai tingkat yang cukup tinggi. Berdasarkan data BMKG Stasiun Meteorologi Malikussaleh, suhu udara di kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya berkisar antara 23 hingga 34 derajat Celsius dalam beberapa hari terakhir.
Meski BMKG memprakirakan hujan ringan masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Aceh Timur dan kawasan sekitarnya dalam beberapa hari mendatang, kondisi panas pada siang hari tetap berisiko meningkatkan kerawanan kebakaran lahan, terutama di area perkebunan, semak belukar, dan lahan tidur yang mengering.
Karhutla di Julok menjadi alarm dini bagi pemerintah dan masyarakat bahwa musim kemarau tahun ini berpotensi memicu kebakaran lebih luas jika tidak diantisipasi sejak awal. Selain memperkuat patroli dan pengawasan, perubahan perilaku masyarakat untuk menghentikan praktik pembakaran lahan menjadi kunci utama mencegah bencana yang dapat merusak lingkungan, mengancam kesehatan, serta menimbulkan kerugian ekonomi bagi warga. [hr]