
Pantai Kapuk, Lhoknga, Aceh Besar. Foto/AJNN/Imamatunnisa Farha
MEDIASURAK.ID – Minggu sore itu seharusnya menjadi hari yang menyenangkan bagi keluarga Razi Fahreza.
Seperti ribuan keluarga lain yang memanfaatkan libur panjang untuk berwisata, remaja 13 tahun asal Desa Dayah Caleu, Sigli, Kabupaten Pidie itu datang ke Pantai Pulau Kapuk, Lhoknga, bersama keluarganya untuk menikmati keindahan laut dan angin pantai yang sejuk.
Anak-anak berlarian di pasir. Suara ombak bersahutan dengan tawa pengunjung. Deretan kendaraan memenuhi kawasan wisata yang menjadi salah satu tujuan favorit saat musim liburan.
Namun menjelang petang, suasana yang semula penuh keceriaan berubah menjadi kepanikan.
Sekitar pukul 15.55 WIB, Razi dilaporkan terseret arus saat mandi di laut. Dalam hitungan detik, ombak yang selama ini menjadi teman bermain para wisatawan berubah menjadi ancaman yang tak mampu dilawan bocah berusia 13 tahun tersebut.
Teriakan meminta tolong mulai terdengar dari bibir pantai.
Orang-orang berlarian menuju lokasi. Sebagian berusaha mencari jejak korban di permukaan laut, sementara yang lain segera menghubungi petugas penyelamat.
Ketika laporan diterima sekitar pukul 16.30 WIB, tim Basarnas Banda Aceh langsung bergerak menuju lokasi kejadian.
Bagi keluarga korban, setiap menit terasa begitu panjang.
Harapan dan kecemasan bercampur menjadi satu ketika mata terus menatap ke arah laut, berharap sosok yang dicari muncul kembali di antara gelombang yang terus bergerak menuju pantai.
Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI AL, Koramil, Polairud, Satgas SAR, dan masyarakat setempat segera melakukan pencarian.
Mereka menyisir area sekitar lokasi terakhir korban terlihat, memperluas pencarian hingga radius sekitar 1,5 kilometer mengikuti arah arus laut.
Namun waktu berjalan lebih cepat dari yang diharapkan.
Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat. Cahaya senja yang biasanya dinikmati wisatawan berubah menjadi pertanda berakhirnya pencarian hari pertama.
Sekitar pukul 18.30 WIB, operasi SAR sementara dihentikan karena gelap mulai menyelimuti kawasan pantai dan jarak pandang semakin terbatas.
Laut kembali tenang.
Tetapi tidak dengan hati keluarga yang masih menunggu.
Malam itu, harapan belum padam. Tim SAR memastikan pencarian akan kembali dilanjutkan pada keesokan hari dengan harapan Razi dapat segera ditemukan.
Peristiwa yang menimpa Razi kembali mengingatkan bahwa keindahan pantai selalu berjalan berdampingan dengan risiko yang harus diwaspadai.
Banyak pantai di Aceh Besar memiliki arus bawah laut yang kuat dan kerap berubah tanpa tanda yang mudah dikenali oleh wisatawan. Karena itu, pengawasan terhadap anak-anak dan kepatuhan terhadap peringatan keselamatan menjadi hal yang sangat penting.
Di balik riuh tawa liburan dan keindahan panorama laut, selalu ada pesan yang perlu diingat: alam menghadirkan pesona yang memikat, tetapi juga menuntut kehati-hatian.
Kini, di tengah suara ombak yang terus memecah pantai Lhoknga, sebuah keluarga masih menanti.
Menanti kabar.
Menanti harapan.
Dan menanti Razi pulang.
[Helmi Hass]