
Anak-anak Gampong Nusa, setiap pagi memilih bersepeda dan pada main HP. Foto/mediasurak,id/Anisaton Humaira
PAGI itu matahari baru naik separuh langit.
Jalan aspal yang membelah Gampong Nusa, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, masih lengang. Di kiri kanan, pohon-pohon tumbuh rapi menaungi jalan. Di kejauhan, siluet pegunungan tampak biru kehijauan, sementara aliran sungai kecil mengalir tenang di sisi kampung.
Lalu terdengar suara yang kini mulai langka di banyak tempat: derit rantai sepeda tua dan gelak tawa anak-anak.
Seorang anak perempuan mengayuh sepeda merahnya dengan riang. Rambutnya berkibar tertiup angin pagi. Dari arah berlawanan, beberapa anak lain menyusul. Mereka berhenti di tepi sungai, memarkir sepeda begitu saja, lalu berceloteh sambil memperhatikan ikan-ikan kecil yang berenang di air yang jernih.
Tak ada yang sibuk menunduk memandangi layar Hp.
Tak ada yang larut dalam dunia maya.
Di Gampong Nusa, masa kecil rupanya masih hidup.
Letaknya hanya sekitar belasan kilometer dari Kota Banda Aceh. Internet di desa ini berjalan lancar, sinyal telepon nyaris tanpa gangguan. Namun anehnya, warga di sini tidak membiarkan teknologi mengambil alih seluruh ruang sosial mereka.
Mereka masih memelihara kebiasaan lama: menyapa tetangga, berkumpul di meunasah, gotong royong, dan membiarkan anak-anak tumbuh bersama alam.

Warga selalu merawat gampong Nusa dengan membangun kebersamaan. Foto/mediasurak.id/Anisaton Humaira
Ketika banyak desa mulai kehilangan riuh suara anak-anak karena mereka “berpindah rumah” ke dalam layar gawai, Gampong Nusa justru mempertahankan tradisi itu dengan bangga.
Bahkan, desa ini pernah dinobatkan sebagai salah satu dari 50 Desa Wisata Terbaik di Indonesia.
Namun bagi warga Nusa, penghargaan bukanlah tujuan utama.
Yang mereka jaga adalah cara hidup.
Perjalanan menjaga tradisi itu tidak lahir dalam semalam.
Semua bermula pasca-tsunami.
Sekitar tahun 2010, sekelompok ibu-ibu mulai bergerak. Mereka memilah sampah, membuat kerajinan bunga kering, dan perlahan membangun kesadaran bahwa kampung mereka memiliki potensi besar.
Keramahan kemudian dijadikan budaya.
Ketika tamu datang, baik wisatawan domestik maupun mancanegara, warga menyambut dengan tarian, tabuhan rapai, serta hidangan khas Aceh seperti kuah pliek u dan dodol.
Yang paling berkesan bukanlah suguhan itu.
Melainkan senyum tulus warga yang menyapa seolah tamu adalah keluarga sendiri.
Di bawah rindangnya pepohonan, seorang ibu bernama Siti Rahma (42) duduk santai sambil mengawasi anak-anak bermain.
Sebagai ibu di era digital, ia tidak anti teknologi.
Ia menggunakan telepon pintar, memahami internet, dan mengikuti perkembangan zaman.
Namun baginya, ada batas yang tidak boleh dilanggar.
“Hal-hal seperti itu, penggunaan HP, harus sangat diperhatikan. Apalagi di masa pertumbuhan mereka sekarang,” ujarnya.
Karena itulah, orang tua di Gampong Nusa sepakat menjaga anak-anak mereka secara bersama.
Mereka mengawasi, saling mengingatkan, dan memastikan lingkungan tetap menjadi ruang belajar yang sehat.
Hasilnya terlihat jelas.
Anak-anak usia empat tahun sudah terbiasa pergi mengaji ke meunasah.
Bukan karena dipaksa.
Tetapi karena melihat teman-teman mereka melakukan hal yang sama.
Di sini, karakter dibentuk oleh lingkungan.
Bukan oleh algoritma.
Setiap Minggu pagi, lorong-lorong desa kembali ramai.
Bukan oleh kendaraan.
Melainkan oleh gotong royong.
Anak muda, bapak-bapak, ibu-ibu, hingga anak-anak kecil turun bersama membersihkan lingkungan.
Tradisi lama tetap hidup.
Kenduri di kuburan saat Idul Adha masih dijalankan.
Hari raya dimaknai sebagai momen mempererat silaturahmi, bukan sekadar berjalan-jalan atau berbelanja.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, Gampong Nusa justru memilih berjalan perlahan. Tetapi mantap.

Anak-anak mengayuh sepeda di tengah kampung yang masih asri. Foto/mediasurak.id/Anisaton Humaira
Saat kami menghampiri sekelompok anak yang sedang bermain sepeda, wajah mereka tampak merah merona karena lelah dan bahagia.
Mereka tertawa lepas.
Sesekali saling mengejar.
Lalu kembali mengayuh.
Ketika ditanya mengapa tidak bermain ponsel saja di rumah, seorang anak perempuan bernama Zalfa yang duduk di kelas empat SD menjawab polos.
“Lebih suka main di luar sama teman, Kak. Lebih seru. Kalau main HP terus nanti pusing,” katanya sambil tersenyum malu.
Mereka memang mengenal permainan digital.
Sesekali bermain gim.
Tetapi dunia mereka tetap berada di luar rumah.
Di sungai.
Di jalan kampung.
Di lapangan.
Mereka bermain lompat tali, kelereng, memancing ikan, kejar-kejaran, bahkan menceburkan diri ke sungai bersama-sama.
Masa kecil mereka tidak tersimpan di memori telepon genggam.
Tetapi di ingatan satu sama lain.
Sebelum berpisah, Siti Rahma memandang anak-anak yang masih riuh bermain.
Matanya teduh.
Ia tak meminta kampungnya menjadi kota besar.
Tak berharap anak-anaknya tumbuh menjadi orang terkenal.
Ia hanya ingin apa yang ada hari ini tetap bertahan.
“Kami mau lima tahun ke depan dan seterusnya begini terus. Karena ini sudah berjalan sejak kami kecil di sini,” katanya pelan.
Di belakangnya, burung-burung masih berkicau.
Anak-anak masih mengayuh sepeda.
Dan hamparan hijau masih membentang.
Di Gampong Nusa, rupanya ada sebuah pelajaran sederhana yang mulai langka di zaman modern:
Bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan kebersamaan.
Bahwa teknologi tidak harus mematikan tradisi.
Dan bahwa masa kecil yang bahagia masih bisa diselamatkan—selama sebuah kampung mau menjaganya bersama-sama.
[Anisaton Humaira]