
Foto udara aktivitas bongkar muat batu bara di kawasan pantai Desa Peunaga Cut Ujong, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat. (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Di tengah capaian surplus perdagangan luar negeri yang masih terjaga, struktur ekspor Aceh menyimpan catatan penting. Hampir 80 persen nilai ekspor Aceh pada April 2026 masih bertumpu pada satu komoditas (diversifikasi), yakni batu bara. Kondisi ini menunjukkan sektor pertambangan masih menjadi penopang utama devisa daerah, sekaligus mengindikasikan belum kuatnya diversifikasi ekspor dari sektor-sektor unggulan lainnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat nilai ekspor Aceh pada April 2026 mencapai 56,99 juta dolar AS. Meski turun 3,93 persen dibandingkan Maret 2026, nilai tersebut masih tumbuh 7,55 persen dibandingkan April tahun lalu.
Kepala BPS Aceh, Agus Andria, mengatakan India masih menjadi tujuan utama ekspor Aceh dengan nilai mencapai 38,14 juta dolar AS atau sekitar dua pertiga dari total ekspor daerah.
“Ekspor asal Aceh selama April 2026 paling besar ditujukan ke India dengan nilai 38,14 juta dolar AS. Komoditas utama yang diekspor ke negara tersebut adalah batu bara,” kata Agus Andria, Selasa (2/6/2026).
Selain India, pasar utama ekspor Aceh lainnya adalah Thailand dan Vietnam dengan nilai masing-masing 4,49 juta dolar AS dan 4,29 juta dolar AS. Menariknya, komoditas yang mendominasi pengiriman ke kedua negara tersebut juga masih batu bara.
Data BPS menunjukkan nilai ekspor batu bara Aceh selama April mencapai 45,57 juta dolar AS atau setara 79,95 persen dari total ekspor. Artinya, hampir delapan dari setiap sepuluh dolar devisa ekspor Aceh berasal dari komoditas tambang tersebut.
Dominasi batu bara tersebut membuat komoditas unggulan lain seperti kopi, rempah-rempah, dan berbagai produk kimia masih berada jauh di belakang. Padahal selama ini kopi Gayo dan sejumlah komoditas pertanian Aceh kerap menjadi identitas ekspor daerah di pasar internasional.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun Aceh memiliki beragam sumber daya alam dan komoditas unggulan, kontribusi sektor non-tambang terhadap ekspor masih relatif terbatas. Ketergantungan yang tinggi terhadap batu bara juga membuat kinerja ekspor Aceh rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global dan perubahan kebijakan energi di negara-negara tujuan ekspor.
Dari sisi jalur pengiriman, sebagian besar ekspor Aceh sudah dilakukan melalui pelabuhan yang berada di dalam provinsi. Nilainya mencapai 45,58 juta dolar AS atau sekitar 79,97 persen dari total ekspor. Sementara sisanya dikirim melalui pelabuhan di luar Aceh, terutama melalui Sumatera Utara dengan nilai mencapai 11,39 juta dolar AS.
Di sisi lain, aktivitas impor Aceh juga menunjukkan dinamika tersendiri. Pada April 2026, nilai impor tercatat sebesar 49,25 juta dolar AS, meningkat 14,09 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Namun secara tahunan masih mengalami penurunan sebesar 3,07 persen.
Amerika Serikat menjadi negara asal impor terbesar dengan nilai mencapai 27,17 juta dolar AS, disusul Aljazair sebesar 18,74 juta dolar AS. Kedua negara tersebut memasok gas propana dan butana yang menjadi komoditas impor utama Aceh.
Sementara itu, Tiongkok menempati posisi ketiga sebagai negara pemasok impor dengan nilai 2,99 juta dolar AS yang didominasi bahan kimia anorganik.
Secara keseluruhan, gas propana dan butana menyumbang 45,91 juta dolar AS atau sekitar 93,20 persen dari total impor Aceh selama April 2026. Angka ini menunjukkan struktur impor Aceh juga masih sangat terkonsentrasi pada kebutuhan energi.
Meski demikian, perdagangan luar negeri Aceh masih mencatat hasil positif. Selisih antara ekspor dan impor menghasilkan surplus neraca perdagangan sebesar 7,74 juta dolar AS pada April 2026.
Namun di balik surplus tersebut, tersimpan pekerjaan rumah yang tidak kecil. Ketika hampir 80 persen ekspor masih bergantung pada batu bara dan lebih dari 90 persen impor didominasi komoditas energi, Aceh masih menghadapi tantangan besar untuk memperkuat hilirisasi, memperluas pasar produk unggulan, serta mengurangi ketergantungan terhadap komoditas primer.
Surplus perdagangan memang menjadi kabar baik. Namun bagi perekonomian jangka panjang, pertanyaan yang lebih penting adalah sejauh mana Aceh mampu membangun struktur ekspor yang lebih beragam, bernilai tambah, dan tidak bergantung pada satu komoditas semata. Jika tantangan itu mampu dijawab, maka surplus perdagangan bukan hanya menjadi angka statistik, melainkan fondasi bagi pertumbuhan ekonomi Aceh yang lebih kuat dan berkelanjutan.
[Raudhatul Jannah]