
Ketua PPIH Debarkasi Aceh, Arijal (tengah) didampingi staf.(Foto/mediasurak.id/Raudhah)
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Duka menyelimuti penyelenggaraan ibadah haji Aceh tahun 2026. Hingga pertengahan Juni, sembilan jamaah haji asal Aceh dilaporkan meninggal dunia di Tanah Suci akibat berbagai gangguan kesehatan. Pada saat yang sama, sembilan jamaah lainnya masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Arab Saudi setelah kondisi fisik mereka menurun usai menjalani rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Aceh menyebut, mayoritas jemaah yang masih dirawat mengalami kelelahan dan gangguan kesehatan ringan akibat aktivitas fisik yang padat selama Armuzna, terutama mereka yang berusia lanjut.
Ketua PPIH Debarkasi Aceh, Arijal, mengatakan berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Aceh dan Balai Kekarantinaan Kesehatan, kondisi jemaah yang dirawat terus dipantau secara intensif oleh tim kesehatan.
“Sebagian besar dirawat karena kondisi fisik yang menurun setelah menjalani Armuzna. Beberapa di antaranya merupakan jemaah lanjut usia yang membutuhkan masa pemulihan lebih lama,” ujar Arijal dalam konferensi pers di Media Center Asrama Haji Aceh, Senin (15/6/2026).
Ia menegaskan, hingga kini tidak ada laporan jemaah yang dirawat akibat penyakit kronis. Mayoritas hanya mengalami keluhan kesehatan ringan seperti kelelahan, batuk, dan pilek.
“Alhamdulillah, sejauh ini tidak ada indikasi penyakit kronis. Keluhan yang dialami umumnya berupa kelelahan dan gangguan kesehatan ringan. Kita berharap mereka segera pulih dan dapat kembali ke Tanah Air dalam keadaan sehat,” katanya.
Di balik harapan itu, musim haji tahun ini juga meninggalkan duka mendalam bagi keluarga jemaah Aceh. PPIH mencatat sembilan jemaah meninggal dunia akibat berbagai gangguan kesehatan, mulai dari gagal jantung, syok kardiogenik, pneumonia, penyakit ginjal kronis hingga hypovolemic shock.
Jemaah terakhir yang dilaporkan wafat adalah Muhammad Yusuf, warga Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen. Ia meninggal dunia di Madinah pada Minggu (14/6/2026) akibat hypovolemic shock dan dimakamkan di Pemakaman Baqi.
“Beliau menjadi jemaah kesembilan asal Aceh yang wafat pada musim haji tahun ini. Kami turut berduka cita dan mendoakan semoga seluruh amal ibadahnya diterima Allah SWT,” ujar Arijal.
Sebelumnya, Nurdin Ali asal Kabupaten Pidie meninggal dunia di Mekkah pada 5 Juni akibat cardiogenic shock dan pneumonia. Mahdi Muhammad Sufi, warga Aceh Besar, wafat pada 3 Juni di RS King Abdul Aziz Hospital karena penyakit ginjal kronis.
Selain itu, Ibrahim bin Abdul Kadir Nuh dari Kabupaten Pidie meninggal pada 31 Mei akibat cardiogenic shock dan pneumonia. Pada hari yang sama, Sulasry Abdul Gani asal Kabupaten Bireuen juga meninggal dunia karena cardiogenic shock.
Jemaah lainnya yang wafat yakni Aminah Ahmad dan Siti Salmijah dari Pidie Jaya yang meninggal akibat gangguan jantung, serta Maimunah Yusuf Ali dari Aceh Tamiang dan Nurwaida Muhammad Yusuf dari Bireuen yang wafat saat berada di Arafah.
Rangkaian Armuzna yang menjadi puncak ibadah haji memang dikenal sebagai fase paling berat karena menuntut ketahanan fisik dan mental jemaah. Suhu yang tinggi, kepadatan jutaan jemaah, serta aktivitas ibadah yang berlangsung berhari-hari menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi jemaah lanjut usia.
Meski demikian, PPIH Debarkasi Aceh tetap optimistis seluruh jemaah yang masih menjalani perawatan dapat segera pulih dan kembali ke Indonesia bersama rombongan haji lainnya.
“Mohon doa dari seluruh masyarakat Aceh agar saudara-saudara kita yang masih dirawat diberikan kesembuhan dan dapat kembali ke Tanah Air dalam keadaan sehat,” tutup Arijal.
Musim haji tahun ini pun menjadi pengingat bahwa di balik panggilan suci ke Baitullah, tersimpan perjuangan fisik dan pengorbanan besar. Sebagian jemaah pulang membawa gelar haji, sementara sebagian lainnya mengakhiri perjalanan hidupnya di Tanah Suci—tempat yang selama ini mereka rindukan untuk bersujud terakhir kepada Sang Pencipta.
[Raudhatul Jannah]