
Saufi Rahmadhan (20), taruna Politeknik Pelayaran salah seorang korban ledakan kapal Aceh hebat 2. (Foto/mediasurak.id/Raudha)
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Suara ledakan keras tiba-tiba memecah suasana di ruang mesin KMP Aceh Hebat 2 yang sedang bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh. Dalam hitungan detik, kobaran api menyambar dan asap tebal memenuhi ruangan. Belasan taruna yang tengah mengikuti kegiatan akademik pun panik menyelamatkan diri. Sehari pascakejadian, sedikitnya 15 korban masih menjalani perawatan intensif di RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA), sementara kesaksian korban mulai mengungkap detik-detik mengerikan insiden tersebut.
Belasan korban ledakan dan kebakaran di ruang mesin KMP Aceh Hebat 2 masih dirawat di sejumlah ruang perawatan di RSUDZA, Sabtu (13/6/2026). Sebagian korban menjalani perawatan di ruang Intensive Care Unit (ICU), High Care Unit (HCU) Surgical, serta Ruang Raudhah 7 akibat luka bakar dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.
Salah seorang korban, Saufi Rahmadhan (20), taruna Politeknik Pelayaran asal Kabupaten Pidie, mengaku masih mengingat dengan jelas momen yang nyaris merenggut nyawanya.
Saat itu, ia bersama sejumlah taruna lain sedang mengikuti kegiatan akademik dan ujian tengah semester (UTS) di atas kapal. Sebelum memasuki ruang mesin, mereka mendapat pengarahan dari Kepala Kamar Mesin (KKM) KMP Aceh Hebat 2, Agus Widodo, terkait sistem dan komponen permesinan kapal.
“Kami diberi penjelasan mengenai komponen dan sistem mesin kapal, kemudian diajak melihat sejumlah suku cadang sebelum turun ke ruang mesin,” ujar Saufi saat ditemui di RSUDZA.
Menurutnya, ruang mesin kapal terdiri atas dua bagian, yakni ruang mesin utama dan ruang generator. Karena suhu di ruang mesin utama cukup panas, sebagian taruna memilih berpindah ke ruang generator yang berada di area berbeda.
“Saat itu sebagian kami keluar dari ruang mesin utama karena panas. Kami berada di ruang generator bersama beberapa teman lainnya,” katanya.
Namun suasana belajar yang semula berlangsung normal mendadak berubah mencekam.
“Tiba-tiba terdengar suara ledakan. Kami langsung panik. Saya menutupi wajah dengan tangan agar tidak terkena api,” tutur Saufi.
Ledakan tersebut, kata dia, disusul kobaran api yang menyambar sejumlah orang di dalam ruangan. Dalam kondisi panik dan dipenuhi asap tebal, para taruna berusaha menyelamatkan diri keluar dari ruang mesin.
Saufi mengaku dirinya menjadi salah satu orang terakhir yang berhasil keluar karena posisinya berada di bagian sudut ruangan saat ledakan terjadi.
“Saya berada di bagian sudut, jadi agak terlambat keluar. Saat itu asap sudah tebal dan semua orang berusaha menyelamatkan diri,” ujarnya.
Akibat semburan api, sejumlah korban mengalami luka bakar di bagian wajah, tangan, telinga, hingga tubuh. Saufi sendiri mengalami luka bakar di beberapa bagian tubuh dan telah menjalani tindakan operasi oleh tim medis.
“Sudah dilakukan operasi di beberapa bagian, termasuk wajah, tangan, dan kaki,” katanya.
Yang mengejutkan, Saufi menegaskan bahwa saat kejadian tidak ada aktivitas perbaikan maupun pembongkaran mesin di kapal. Kegiatan yang dilakukan murni berupa pengenalan komponen mesin sebagai bagian dari proses pembelajaran dan ujian.
“Kami hanya mengikuti kegiatan pengenalan mesin untuk UTS. Sebelumnya juga sudah beberapa kali ke kapal dan tidak pernah terjadi apa-apa,” ujarnya.
Usai kejadian, seluruh korban langsung dievakuasi menuju RSUDZA Banda Aceh untuk mendapatkan penanganan medis. Proses evakuasi dilakukan menggunakan bus Trans Koetaradja agar korban dapat segera dibawa ke rumah sakit tanpa harus menunggu kedatangan ambulans.
Hingga Sabtu (13/6/2026), sebagian korban masih menjalani perawatan intensif dan pengawasan ketat dari tim medis karena mengalami luka bakar dengan tingkat keparahan yang beragam.
Sebelumnya, ledakan disertai kebakaran terjadi di ruang mesin KMP Aceh Hebat 2 saat kapal sedang bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, Jumat (12/6/2026). Peristiwa tersebut mengakibatkan sedikitnya 15 orang mengalami luka bakar. Mayoritas korban merupakan taruna Politeknik Pelayaran Malahayati yang sedang mengikuti kegiatan praktik dan ujian di atas kapal.
Hingga kini, penyebab pasti ledakan masih dalam penyelidikan. Namun kesaksian para korban mulai memberikan gambaran awal tentang peristiwa yang mengubah kegiatan belajar di atas kapal menjadi tragedi yang menyisakan luka fisik dan trauma mendalam.
Insiden ini sekaligus memunculkan pertanyaan besar mengenai standar keselamatan dalam kegiatan praktik di atas kapal. Sebab, jika benar tidak ada aktivitas perbaikan ataupun pembongkaran mesin saat kejadian, maka penyebab ledakan harus diungkap secara transparan agar tragedi serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.
[Raudhatul Jannah]