Ketum DPP PAN, Zulkifli Hasan, menyampaikan rasa duka cita atas wafatnya mantan Gubernur Aceh, Zaini Abdullah. (Foto/mediasurak.id/Raudhah)
CAKRADUNIA.CO, BANDA ACEH – Di tengah suasana pelantikan pengurus PAN Aceh yang berlangsung meriah, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan sejenak menghentikan euforia politik. Dengan nada penuh haru, ia menyampaikan duka cita atas wafatnya mantan Gubernur Aceh, Zaini Abdullah atau yang akrab disapa Abu Doto, sosok yang pernah menjadi mitra sekaligus sahabatnya saat memimpin Aceh.
Kabar duka itu disampaikan Zulhas di hadapan ratusan kader dan pengurus PAN saat menghadiri pelantikan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PAN Aceh dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PAN kabupaten/kota se-Aceh di Balee Meuseuraya Aceh (BMA), Banda Aceh, Sabtu (13/6/2026).
“Saya turut berduka atas wafatnya Abu Doto. Dulu kami cukup sering berkomunikasi ketika saya menjadi Menteri Kehutanan dan beliau menjabat sebagai Gubernur Aceh,” ujar Zulhas.
Ucapan tersebut sontak mengubah suasana ruangan menjadi lebih khidmat. Bagi Zulhas, Abu Doto bukan sekadar kepala daerah, tetapi sosok yang memiliki visi besar dan komitmen kuat dalam membangun Aceh pascakonflik.
Ia mengenang, selama menjabat Menteri Kehutanan, dirinya kerap berkomunikasi dengan Abu Doto terkait berbagai program pembangunan dan kebutuhan Aceh yang berada dalam kewenangan kementerian yang dipimpinnya saat itu.
“Ketika itu kami banyak berdiskusi mengenai Aceh. Saya berusaha membantu berbagai kebutuhan yang bisa didukung oleh kementerian. Beliau adalah pemimpin yang sangat peduli terhadap kemajuan daerahnya,” kata Zulhas.
Menurutnya, Aceh merupakan daerah yang memiliki potensi besar di berbagai sektor, mulai dari sumber daya alam, pertanian, hingga sumber daya manusia. Karena itu, ia berharap semangat yang pernah diperjuangkan Abu Doto dapat terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya.
Zulhas juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan kekompakan masyarakat Aceh agar mampu bersaing dengan daerah lain serta terus bergerak menuju kemajuan.
“Yang terpenting Aceh tetap rukun dan terus maju. Jangan sampai tertinggal dari daerah lain, bahkan kalau bisa harus lebih unggul,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Zulhas turut mendoakan almarhum agar mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Ia bahkan mengaku berencana langsung bertakziah usai menyelesaikan agenda pelantikan PAN Aceh.
“Insyaallah setelah acara ini saya akan datang untuk bertakziah,” katanya.
Pernyataan Zulhas tersebut mendapat perhatian para kader PAN dan tamu undangan yang hadir. Banyak di antara mereka yang mengenang Abu Doto sebagai tokoh sentral dalam perjalanan Aceh modern.
Sebelumnya, Zaini Abdullah meninggal dunia di RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, Sabtu (13/6/2026) sekitar pukul 12.40 WIB. Almarhum wafat pada usia 86 tahun setelah menjalani perawatan intensif akibat komplikasi penyakit.
Abu Doto merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Aceh. Selain dikenal sebagai figur yang berperan dalam proses perdamaian Aceh pascakonflik, ia juga pernah memimpin Aceh sebagai gubernur pada periode 2012–2017.
Di masa kepemimpinannya, berbagai program pembangunan dan upaya penguatan perdamaian terus dijalankan untuk menjaga stabilitas daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kepergian Abu Doto pun meninggalkan duka yang mendalam, tidak hanya bagi keluarga dan masyarakat Aceh, tetapi juga bagi para tokoh nasional yang pernah mengenal dan bekerja bersamanya.
Bagi Zulkifli Hasan, Abu Doto akan selalu dikenang sebagai pemimpin yang tenang, komunikatif, dan memiliki kepedulian besar terhadap masa depan Aceh.
“Beliau sudah berpulang, tetapi semangat dan pengabdiannya untuk Aceh akan tetap hidup dalam ingatan kita semua,” ujar Zulhas.
Kepergian Abu Doto menutup perjalanan panjang seorang tokoh yang telah mengabdikan hidupnya untuk perdamaian dan pembangunan Aceh. Namun, jejak pengabdian yang ditinggalkannya diyakini akan terus menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk menjaga Aceh tetap damai, bersatu, dan terus maju.
