Orang tua korban Kapal Aceh Hebat 2 saat menerima kunjungan dari pihak PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) yang datang menjenguk korban di rumah sakit. (Foto/mwdiasurak.id/Raudhah)
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Tangis Erna pecah ketika pertama kali melihat putranya, Fahri, terbaring di ruang Intensive Care Unit (ICU) RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh. Taruna Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati itu menjadi salah satu korban ledakan dan kebakaran di KMP Aceh Hebat 2 yang terjadi sehari sebelumnya.
Namun di tengah kecemasan yang masih menyelimuti keluarga, secercah harapan mulai muncul. Saat dipanggil sang ibu, Fahri akhirnya memberikan respons.
“Alhamdulillah kondisinya mulai membaik. Tadi saya panggil, dia sudah merespons,” kata Erna dengan mata berkaca-kaca di RSUDZA Banda Aceh, Sabtu (13/6/2026).
Bagi Erna, respons sederhana itu memiliki arti yang sangat besar. Sebab sejak mendapat kabar putranya menjadi korban ledakan di ruang mesin kapal, dirinya diliputi rasa cemas dan takut kehilangan.
Fahri hingga kini masih menjalani perawatan intensif di ruang ICU. Menurut Erna, putranya mengalami gangguan pada bagian tenggorokan akibat insiden tersebut sehingga masih membutuhkan bantuan selang untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum.
“Di bagian tenggorokannya ada infeksi. Jadi masih menggunakan selang untuk makan, tetapi tadi sudah memberikan respons saat dipanggil,” ujarnya.
Erna mengaku baru tiba di Banda Aceh dari Medan pada Sabtu pagi setelah menerima kabar buruk mengenai kondisi anaknya.
Perjalanan yang ditempuh dengan penuh kecemasan itu terasa semakin berat karena keluarga mereka baru saja kehilangan sosok ayah Fahri yang meninggal dunia beberapa waktu lalu.
Kini, Fahri yang sedang berjuang melawan luka menjadi harapan besar keluarga.
Kesedihan Erna kembali pecah saat menerima kunjungan dari pihak PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) yang datang menjenguk para korban di rumah sakit.
Di sela-sela tangisnya, Erna mengenang percakapan terakhir dengan Fahri sebelum insiden terjadi.
Beberapa jam sebelum ledakan mengguncang KMP Aceh Hebat 2, Fahri sempat menghubunginya melalui video call.
“Sebelum kejadian dia sempat video call dan bercerita sedang praktik di kapal,” katanya lirih.
Saat itu, Fahri terdengar bersemangat mengikuti kegiatan praktik sebagai bagian dari proses pendidikan di Politeknik Pelayaran Malahayati.
Tak ada firasat apa pun.
Tak ada yang menyangka, beberapa jam kemudian, sang ibu justru menerima kabar bahwa putranya menjadi salah satu korban ledakan di ruang mesin kapal.
Meski masih dirawat intensif, perkembangan kondisi Fahri yang mulai membaik memberi harapan baru bagi keluarga.
Erna berharap putranya dan seluruh korban lain dapat segera pulih serta kembali melanjutkan aktivitas dan pendidikan mereka seperti sediakala.
“Kami mohon doa agar anak-anak kami segera sembuh dan sehat kembali. Kami juga melihat pihak Poltek cukup tanggap dalam mendampingi kami,” ujarnya.
Seperti diketahui, ledakan disertai kebakaran terjadi di ruang mesin KMP Aceh Hebat 2 saat kapal sedang bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, Jumat (12/6/2026).
Insiden tersebut mengakibatkan sedikitnya 15 orang mengalami luka bakar. Mayoritas korban merupakan taruna Politeknik Pelayaran Malahayati yang sedang mengikuti kegiatan praktik dan ujian di atas kapal.
Hingga kini, sejumlah korban masih menjalani perawatan intensif di RSUDZA Banda Aceh, sementara penyebab pasti ledakan masih dalam proses penyelidikan.
Bagi Erna, tragedi itu memang meninggalkan luka mendalam. Namun, ketika Fahri mulai membuka mata dan merespons panggilannya, ia kembali menemukan harapan.
Harapan bahwa putranya akan pulih.
Harapan bahwa luka itu akan sembuh.
Dan harapan bahwa suatu hari nanti, Fahri akan kembali berdiri tegak, melanjutkan cita-citanya mengarungi lautan sebagai seorang pelaut.
[Raudhatul Jannah]
