
Ilustrasi.Net
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Euforia Piala Dunia 2026 bakal terasa hingga ke tingkat gampong di Kota Banda Aceh. Pemerintah Kota Banda Aceh menyiapkan sembilan titik nonton bareng (nobar) yang tersebar di seluruh kecamatan melalui program Banda Aceh World Cup Festival 2026, sebuah ajang yang tak hanya menyatukan warga lewat sepak bola, tetapi juga diharapkan menggerakkan ekonomi pelaku UMKM.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Banda Aceh, Reza Kamilin, mengatakan lokasi nobar telah disiapkan di kantor kecamatan maupun gampong di masing-masing wilayah agar semarak pesta sepak bola terbesar di dunia itu dapat dinikmati seluruh masyarakat.
Jadwal nobar tingkat kecamatan dimulai di Kecamatan Jaya Baru pada 20 Juni 2026, dilanjutkan Syiah Kuala (21 Juni), Kutaraja (27 Juni), Kuta Alam (28 Juni), Meuraxa (4 Juli), Ulee Kareng (5 Juli), Baiturrahman (11 Juli), Banda Raya (12 Juli), dan Lueng Bata (19 Juli).
Selain itu, Pemko Banda Aceh juga menggelar nobar akbar tingkat kota setiap hari Minggu di kawasan Car Free Day (CFD). Kegiatan yang berlangsung pukul 06.00 WIB hingga 11.00 WIB tersebut memanfaatkan videotron untuk menayangkan pertandingan-pertandingan pilihan Piala Dunia 2026.
“Piala Dunia adalah pesta olahraga terbesar di dunia. Kita ingin semaraknya dirasakan di setiap sudut Kota Banda Aceh. Karena itu, Pemko mengajak masyarakat merayakannya bersama melalui nobar di tingkat kota, kecamatan, gampong, hingga Car Free Day,” ujar Reza.
Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang menyaksikan pertandingan sepak bola, tetapi juga sarana mempererat kebersamaan warga, menumbuhkan sportivitas, serta mendorong perputaran ekonomi daerah.
“Kegiatan ini juga diharapkan memberikan manfaat bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang berkesempatan membuka lapak dan menjajakan produknya di sekitar lokasi kegiatan,” katanya.
Program Banda Aceh World Cup Festival 2026 juga akan ditutup dengan nobar akbar final Piala Dunia 2026 tingkat kota pada 20 Juli 2026 pukul 02.00 WIB. Sejumlah kegiatan pendukung turut disiapkan dengan melibatkan masyarakat dan pelaku UMKM lokal, sehingga pesta sepak bola dunia ini diharapkan menjadi momentum memperkuat solidaritas warga sekaligus menghidupkan ekonomi kerakyatan di Banda Aceh.
[Anisaton Humaira]