
Ilustrasi/Foto/CNBC
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Setelah empat hari berturut-turut tertekan oleh menguatnya dolar Amerika Serikat (AS), rupiah akhirnya menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Mata uang Garuda berhasil membalikkan keadaan dan ditutup menguat pada perdagangan Kamis (25/6/2026), memutus tren pelemahan yang sempat membayangi pasar keuangan domestik di tengah masih kuatnya sentimen global.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp17.915 per dolar AS, atau menguat tipis 0,06 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Meski kenaikannya relatif kecil, penguatan ini menjadi sinyal positif setelah empat hari beruntun rupiah berada di zona merah akibat tekanan eksternal.
Sepanjang perdagangan, rupiah sempat dibuka melemah. Namun, tekanan jual berangsur mereda sehingga mata uang Garuda mampu berbalik menguat menjelang penutupan pasar. Pergerakan rupiah berada dalam kisaran Rp17.910 hingga Rp17.970 per dolar AS.
Penguatan rupiah terjadi di tengah posisi dolar AS yang masih relatif dominan di pasar global. Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB hanya melemah tipis 0,03 persen ke level 101,581.
Meski terkoreksi tipis, posisi DXY masih berada di level tinggi. Bahkan sehari sebelumnya, Rabu (24/6/2026), indeks tersebut sempat menyentuh 101,8, level tertinggi dalam sekitar 13 bulan terakhir. Penguatan dolar didorong optimisme terhadap ketahanan ekonomi Amerika Serikat dan ekspektasi bahwa The Federal Reserve (The Fed) masih akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama.
Kondisi tersebut membuat ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menjadi terbatas. Karena itu, keberhasilan rupiah keluar dari tekanan setelah empat hari berturut-turut melemah dinilai sebagai sinyal bahwa pasar mulai menemukan keseimbangan, meski tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda.
Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada rilis Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index Amerika Serikat. Data inflasi yang menjadi acuan utama The Fed itu diperkirakan akan sangat menentukan arah kebijakan suku bunga AS pada periode berikutnya.
Jika inflasi AS masih bertahan tinggi, peluang The Fed mempertahankan suku bunga di level tinggi semakin besar. Kondisi itu berpotensi kembali memperkuat dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Sebaliknya, jika tekanan inflasi mulai mereda, ruang penguatan rupiah diperkirakan akan semakin terbuka.
Di tengah ketidakpastian global tersebut, Bank Indonesia (BI) terus memperkuat langkah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa menjaga stabilitas rupiah merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya otoritas moneter.
“Rupiah itu mata uang kita bersama. Jadi tentunya untuk menjaga stabilitas rupiah itu tidak bisa hanya BI sendiri. Kami ingin mengajak seluruh masyarakat dan seluruh bangsa Indonesia bersama-sama menjaga rupiah,” ujar Destry dalam Economic Update CNBC Indonesia 2026, Kamis (25/6/2026).
Sebagai bagian dari penguatan stabilitas pasar keuangan, BI juga menerapkan sejumlah kebijakan baru, salah satunya menurunkan batas pembelian valuta asing tunai tanpa dokumen pendukung (underlying) menjadi maksimal US$10.000 per pelaku per bulan.
Namun, Destry menegaskan kebijakan tersebut bukan bertujuan membatasi penggunaan dolar AS, melainkan memperkuat tata kelola transaksi valuta asing agar lebih sehat, transparan, dan mendukung stabilitas sistem keuangan nasional.
Meski berhasil mengakhiri tren pelemahan, perjalanan rupiah diperkirakan masih akan menghadapi tantangan. Ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat, dinamika ekonomi global, hingga pergerakan arus modal asing masih menjadi faktor utama yang akan menentukan arah nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu ke depan.
Bagi pelaku pasar, penguatan rupiah pada perdagangan Kamis bukan sekadar kenaikan 0,06 persen, melainkan menjadi sinyal awal bahwa mata uang Garuda masih memiliki daya tahan di tengah tekanan dolar AS yang belum sepenuhnya surut.[am]