
Parigi Moutong siap mencatatkan sejarah baru sebagai eksportir utama durian ke pasar global, terutama Tiongkok. Foto/ Kolase Kaidah
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Peluang durian Indonesia menembus pasar internasional semakin terbuka lebar. Setelah memperoleh akses ekspor langsung ke China, buah tropis andalan Nusantara itu diproyeksikan mampu menjadi salah satu penyumbang devisa baru dengan nilai mencapai Rp12,8 triliun per tahun.
Harapan tersebut muncul karena China merupakan pasar durian terbesar di dunia dengan nilai impor sekitar US$8 miliar atau setara Rp128 triliun setiap tahun.
Pemerintah memperkirakan Indonesia berpeluang menguasai sekitar 5 hingga 10 persen pasar tersebut seiring dibukanya jalur ekspor langsung dari Indonesia ke Negeri Tirai Bambu.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor durian Indonesia terus mengalami peningkatan. Pada 2025 volume ekspor mencapai 709,26 ton, naik dibandingkan 590,53 ton pada 2024.
Nilai ekspornya juga meningkat menjadi US$1,25 juta atau sekitar Rp22,38 miliar.
Selama ini Malaysia masih menjadi tujuan ekspor terbesar, disusul Hong Kong dan China.
Namun posisi China diperkirakan akan terus meningkat setelah kedua negara menandatangani Protokol Ekspor Durian Beku pada Mei 2025.
Kesepakatan tersebut memungkinkan durian Indonesia dikirim langsung ke China tanpa harus melalui negara ketiga seperti Thailand, Vietnam atau Malaysia.
Selain memangkas waktu pengiriman dari sekitar 56 hari menjadi hanya 22 hingga 26 hari, jalur baru itu juga mampu menurunkan biaya logistik hingga sekitar 50 persen, sehingga produk Indonesia menjadi lebih kompetitif.
Bukti awalnya mulai terlihat. Pada April 2026 Indonesia berhasil mengekspor 459 ton durian beku ke China senilai sekitar Rp42,5 miliar.
Bahkan hingga pertengahan April, sebanyak 151 kontainer durian telah diberangkatkan ke China dengan nilai ekonomi mencapai Rp377,5 miliar, menurut Kepala Badan Karantina Indonesia, Sahat M. Panggabean.
Di dalam negeri, Sulawesi Tengah menjadi daerah yang paling siap menyambut peluang tersebut.
Provinsi ini memiliki sekitar 3,7 juta pohon durian, dengan produksi mencapai 95.140 ton sepanjang 2025.
Sebanyak tujuh dari delapan rumah pengemasan durian beku yang memenuhi syarat ekspor ke China juga berada di Sulawesi Tengah.
Kepala Karantina Sulawesi Tengah, Alfian, mengatakan harga durian di pasar China dapat mencapai lima hingga tujuh kali lipat dibandingkan harga di dalam negeri.
Kondisi itu diharapkan mampu meningkatkan pendapatan petani sekaligus mendorong tumbuhnya industri pengolahan durian di berbagai daerah.
Meski saat ini Thailand dan Vietnam masih mendominasi pasar durian Asia, terbukanya akses langsung ke China menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk memperluas pangsa pasar dan memperkuat posisi sebagai salah satu pemain baru dalam perdagangan durian dunia.[hr]