
Salah satu contoh ranup hias. (Foto/ ig: @ceudah_handmade)
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH — Jauh sebelum telepon seluler, pesan instan, atau undangan digital menghubungkan manusia, masyarakat Aceh telah memiliki bahasa yang tak memerlukan sepatah kata pun. Namanya ranup. Sehelai daun sirih yang dirangkai dengan penuh makna itu bukan sekadar suguhan bagi tamu, melainkan lambang penghormatan, persaudaraan, dan etika yang selama berabad-abad menjaga harmoni kehidupan sosial masyarakat Aceh.
Kini, ketika ranup masih kerap hadir dalam penyambutan tamu kehormatan, prosesi adat, maupun Tari Ranup Lampuan, yang perlahan memudar justru bukan bentuknya, melainkan pemahaman terhadap filosofi yang dikandungnya. Generasi muda mengenal ranup sebagai simbol budaya, tetapi semakin sedikit yang memahami mengapa leluhur Aceh menempatkannya sebagai bahasa penghormatan yang lebih fasih daripada kata-kata.
Budayawan Aceh, Tarmizi Abdul Hamid, mengatakan tradisi ranup dahulu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh.
“Sirih dulu menjadi makanan ringan orang tua kita. Di setiap acara, sirih selalu dihadirkan sebagai pembuka sekaligus pemulai komunikasi,” ujarnya, Minggu (28/6/2026).
Pada masa itu, membawa ranup ke rumah seseorang bukan sekadar tradisi bertamu. Kehadirannya menjadi isyarat bahwa ada persoalan yang hendak dibicarakan dengan penuh hormat dan itikad baik. Tanpa surat, tanpa pesan, tanpa banyak kata, ranup telah menjadi bahasa yang dipahami bersama.
Menurut Tarmizi, ranup mencerminkan karakter masyarakat Aceh yang menjunjung tinggi adab dalam membangun hubungan antarmanusia.
“Sirih ini merupakan lambang ikatan sosial, penghormatan, kemuliaan dan juga sebagai alat komunikasi,” katanya.
Lebih dari sekadar daun sirih, ranup dirangkai dari berbagai unsur seperti kapur, bunga cengkeh, dan boh cuko. Setiap unsur memiliki filosofi yang menggambarkan keseimbangan, keharmonisan, serta penghormatan terhadap sesama. Nilai-nilai itu diwariskan turun-temurun sebagai bagian dari identitas budaya Aceh.
Seiring perkembangan zaman, bentuk penyajian ranup memang mengalami perubahan. Kini ia tampil lebih artistik dalam prosesi adat, penyambutan tamu kehormatan, hingga pertunjukan budaya. Namun, menurut Tarmizi, kreativitas bukanlah ancaman. Yang perlu dijaga adalah ruh yang terkandung di balik setiap helai sirih.
“Secara filosofi dan makna sama di seluruh Aceh. Perbedaan bentuk hanya bergantung pada kreativitas,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa generasi muda mulai akrab dengan tampilan ranup, tetapi belum tentu memahami nilai yang diwariskannya. Jika kondisi itu terus berlanjut, ranup dikhawatirkan hanya menjadi pelengkap seremoni tanpa lagi berfungsi sebagai perekat kehidupan sosial masyarakat Aceh.
“Hilang identitas budaya Aceh yang identik dengan nilai-nilai agama, hilang kemuliaan dan ikatan sosial dalam masyarakat,” katanya.
Padahal, setiap penyajian ranup mengajarkan penghormatan kepada tamu, kesantunan dalam berkomunikasi, serta pentingnya membangun hubungan antarsesama dengan ketulusan. Nilai-nilai itu justru semakin relevan di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan kian miskin ruang untuk saling menghargai.
Karena itu, Tarmizi berharap generasi muda tidak hanya mengenal ranup sebagai pelengkap Tari Ranup Lampuan atau hiasan dalam upacara adat, tetapi juga memahami filosofi yang diwariskan para leluhur.
“Agar hantaran ranup dan Tari Ranup Lampuan tidak hilang, generasi Aceh harus tekun mempelajari nilai-nilai budayanya sendiri,” ujarnya.
Sebab yang sesungguhnya terancam hilang bukanlah daun sirih itu. Yang perlahan memudar adalah bahasa penghormatan, adab, dan kebijaksanaan yang selama berabad-abad menjadi wajah masyarakat Aceh. Ketika makna itu mampu diwariskan, ranup akan tetap hidup—bukan hanya di atas talam, tetapi juga di dalam cara orang Aceh menghormati sesamanya.
[Raudhah]



