
Akibat libur sekolah, salah satu tempat produksi tahu dan tempe mengalami penurunan omzet hingga 40 persen. (Foto/mediasurak.id/Raudhah)
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Libur sekolah ternyata tidak hanya menghentikan sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi juga mengurangi denyut usaha kecil yang menjadi pemasok bahan pangan. Di Aceh Besar, pelaku usaha tahu dan tempe mengaku omzet penjualan mereka merosot hingga 40 persen sejak distribusi makanan bergizi ke sekolah dihentikan selama masa liburan.
Penurunan tersebut terjadi karena selama program MBG berjalan, tahu dan tempe menjadi salah satu sumber protein nabati yang rutin dipasok ke sejumlah dapur penyedia makanan bergizi. Ketika operasional dapur dihentikan sementara, pesanan yang selama ini menjadi penopang pendapatan usaha pun ikut terhenti.
Program MBG diketahui dihentikan sementara mulai 22 Juni hingga 13 Juli 2026 seiring libur sekolah nasional. Kebijakan tersebut diterapkan di seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk keperluan evaluasi tata kelola operasional sekaligus efisiensi anggaran.
Lina, pemilik usaha tahu dan tempe di Aceh Besar, mengatakan dampak penghentian sementara program MBG langsung terasa terhadap penjualan produknya, meski masih ditopang oleh pasar umum.
“Dampaknya ada terasa, cuma tidak terlalu signifikan. Sebelumnya ada beberapa dapur MBG yang rutin memesan. Sekarang karena sekolah libur, pasar juga sedang sepi, ditambah program MBG berhenti sementara, jadi memang terasa penurunannya,” ujarnya, Minggu (28/6/2026).
Ia memperkirakan omzet usahanya turun sekitar 30 hingga 40 persen dibandingkan saat pesanan dari dapur MBG masih berjalan normal.
“Kurang lebih turun sekitar 30 sampai 40 persen dari pendapatan sebelumnya,” katanya.
Menurut Lina, kehadiran Program MBG selama ini memberi kepastian pasar bagi usaha kecil seperti yang dijalankannya. Pesanan datang secara rutin setiap pekan dari beberapa dapur MBG sehingga arus kas usaha menjadi lebih stabil.
“Program MBG sangat membantu. Setiap minggu ada beberapa dapur yang memesan, bahkan satu dapur bisa memesan dua sampai tiga kali. Jadi memang sangat bermanfaat bagi usaha kami,” tuturnya.
Ia berharap distribusi makanan bergizi dapat kembali berjalan setelah masa libur sekolah berakhir. Dengan beroperasinya kembali dapur MBG, permintaan terhadap tahu dan tempe diperkirakan kembali meningkat, sehingga mampu membantu menjaga kestabilan pendapatan para pelaku usaha kecil yang menjadi mitra penyedia bahan pangan.
Pengalaman pelaku usaha di Aceh Besar menunjukkan bahwa Program MBG tidak hanya memberi manfaat bagi penerima makanan bergizi, tetapi juga menciptakan rantai ekonomi baru bagi UMKM lokal. Ketika program berhenti sementara, dampaknya ikut dirasakan para pemasok yang selama ini menjadi bagian dari ekosistem penyediaan pangan bergizi.
[Raudhah]



