
Serangan Israel ke Jalur Gaza semakin meningkat. (REUTERS/Dawoud Abu Alkas)
MEDIASURAK.ID, GAZA – Suasana duka yang seharusnya menjadi penghormatan terakhir bagi seorang korban perang berubah menjadi kepanikan dan pertumpahan darah. Sebuah serangan drone Israel menghantam kerumunan warga Palestina yang tengah bersiap mengikuti prosesi pemakaman di Kamp Pengungsi Nuseirat, Jalur Gaza bagian tengah, Jumat (18/7), menewaskan sedikitnya delapan orang dan melukai 20 lainnya.
Insiden tersebut kembali memperlihatkan rapuhnya keselamatan warga sipil di Gaza, ketika bahkan prosesi pemakaman tidak lagi terbebas dari ancaman serangan di tengah konflik yang terus berkecamuk.
Laporan Anadolu Agency menyebutkan, warga saat itu berkumpul di depan Masjid Ahmad Yassin untuk mengantarkan jenazah seorang pria Palestina yang sebelumnya dilaporkan tewas akibat serangan pasukan Israel pada Jumat pagi.
Menurut sejumlah saksi mata, ketika para pelayat mulai memadati halaman masjid, sebuah drone Israel tiba-tiba melancarkan serangan ke arah kerumunan. Ledakan keras seketika mengubah suasana haru menjadi kepanikan. Warga berlarian menyelamatkan diri, sementara korban bergelimpangan di sekitar lokasi.
Rekaman video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan tubuh para korban tergeletak di jalan dengan pakaian berlumuran darah. Beberapa warga tampak berusaha mengevakuasi korban menggunakan kendaraan seadanya menuju fasilitas kesehatan terdekat.
Serangan itu memicu kecaman dari Kantor Media Gaza. Dalam pernyataannya, lembaga tersebut menyebut aksi militer Israel dalam beberapa hari terakhir semakin memperlihatkan pola serangan terhadap kawasan sipil.
Mereka mengungkapkan, lebih dari 25 warga Palestina dilaporkan tewas dalam kurun 72 jam terakhir akibat serangan yang menghantam pasar tradisional, rumah penduduk, tempat berkumpul warga, hingga prosesi pemakaman.
Kantor Media Gaza menilai pola serangan tersebut sebagai bagian dari meningkatnya tindakan yang menyasar warga sipil tak bersenjata. Mereka menyebut serangan terhadap lokasi-lokasi sipil merupakan pelanggaran terhadap prinsip-prinsip hukum humaniter internasional yang mewajibkan perlindungan bagi masyarakat sipil selama konflik bersenjata.
Di sisi lain, situasi kemanusiaan di Jalur Gaza terus memburuk. Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza, sejak gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober 2025, sedikitnya 1.127 warga Palestina dilaporkan tewas dan 3.643 lainnya mengalami luka-luka dalam berbagai insiden yang oleh otoritas setempat disebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut.
Secara keseluruhan, jumlah korban meninggal dunia sejak konflik berlangsung telah melampaui 73.000 orang, sementara lebih dari 173.000 warga mengalami luka-luka. Kerusakan infrastruktur juga disebut semakin meluas, dengan sekitar 90 persen fasilitas sipil di Jalur Gaza dilaporkan hancur atau rusak berat.
Peristiwa di Nuseirat kembali menegaskan bahwa perang tidak hanya merenggut nyawa di garis depan pertempuran, tetapi juga menyentuh ruang-ruang paling sakral dalam kehidupan masyarakat. Ketika iring-iringan jenazah pun menjadi sasaran serangan, duka di Gaza seakan tak pernah diberi kesempatan untuk benar-benar berakhir.[]



