Suasana Bandara Soekarno Hatta
MEDIASURAK.ID, JAKARTA – Lonjakan harga tiket pesawat kini tidak hanya terjadi di rute populer seperti Bali, tetapi juga mulai menghantam rute strategis ke Aceh.
Kenaikan harga avtur yang melonjak hingga 72 persen sejak awal April 2026 menjadi pemicu utama, mendorong tarif tiket domestik melesat jauh di atas harga normal.
Berdasarkan pantauan berbagai platform pencarian tiket, harga penerbangan dari Jakarta ke Banda Aceh kini berada di kisaran Rp3,5 juta hingga Rp4,8 juta untuk pulang-pergi, tergantung maskapai dan waktu pemesanan.
Dalam beberapa kondisi, terutama mendekati akhir pekan atau periode ramai, harga bahkan bisa menembus Rp5 juta lebih.
Padahal sebelumnya, rute Jakarta–Aceh umumnya berada di kisaran Rp2,5 juta hingga Rp3,5 juta.
Aceh Ikut Tertekan, Mobilitas Jadi Mahal
Kenaikan ini berdampak langsung pada mobilitas masyarakat Aceh—baik pekerja, pelaku usaha, maupun keluarga yang rutin bepergian.
Rute Jakarta–Aceh bukan sekadar jalur wisata, tetapi juga jalur ekonomi dan sosial yang vital.
Ketika harga tiket melonjak, dampaknya tidak hanya dirasakan penumpang, tetapi juga berpotensi menekan aktivitas ekonomi daerah.
Bali Tembus Rp4 Juta, Aceh Menyusul
Lonjakan paling mencolok memang terjadi pada rute Jakarta–Bali yang kini menembus Rp4 juta pulang-pergi—hampir dua kali lipat dari harga normal.
Namun tren yang sama kini menjalar ke rute lain:
- Jakarta–Medan: Rp3,5 juta – Rp4,6 juta
- Jakarta–Makassar: Rp3,4 juta – Rp3,7 juta
- Jakarta–Banda Aceh: Rp3,5 juta – Rp4,8 juta
Artinya, kenaikan tidak lagi sektoral—tetapi merata di hampir seluruh rute domestik.
Avtur Jadi Biang Utama
Kenaikan harga tiket ini sejalan dengan lonjakan harga avtur oleh PT Pertamina (Persero).
Di Bandara Soekarno-Hatta, harga avtur naik dari Rp13.656 per liter menjadi Rp23.551 per liter.
Kenaikan drastis ini memicu penyesuaian fuel surcharge hingga 38 persen.
Padahal, biaya bahan bakar menyumbang sekitar 40 persen dari total biaya operasional maskapai.
Artinya, ketika avtur naik, tiket hampir pasti ikut melonjak.
Pemerintah Batasi, Tapi Realitas Pasar Berbeda
Pemerintah sebenarnya telah menetapkan batas kenaikan tarif di kisaran 9–13 persen.
Namun di lapangan, harga tiket yang muncul di platform pencarian justru jauh melampaui batas tersebut.
Hal ini menunjukkan adanya tekanan biaya yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan oleh regulasi.
Kesimpulan: Tiket Mahal, Mobilitas Terancam
Kenaikan harga tiket pesawat hari ini bukan sekadar fluktuasi biasa, tetapi refleksi tekanan global—mulai dari harga energi hingga konflik geopolitik.
Bagi daerah seperti Aceh, kondisi ini menjadi lebih sensitif.
Jika tren ini terus berlanjut, maka konektivitas udara yang selama ini menjadi tulang punggung mobilitas bisa berubah menjadi beban ekonomi baru bagi masyarakat.
