
Seorang petani di Aceh Besar sedang melihat kondisi sawahnya yang mengalami kekeringan akibat musim kemarau, Sabtu (30/5/26). (Foto/mediasurak.id/Raudhah)
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat Aceh untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring mulai masuknya musim kemarau di sejumlah wilayah provinsi tersebut.
Peringatan itu disampaikan setelah BMKG mendeteksi sedikitnya 98 titik panas (hotspot) yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Aceh. Kondisi ini menjadi sinyal awal meningkatnya risiko kebakaran lahan akibat cuaca yang semakin panas dan berkurangnya curah hujan di sejumlah daerah.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda (SIM) Banda Aceh, Nofrida Handayani Sodik, mengatakan beberapa wilayah telah resmi memasuki musim kemarau, antara lain Banda Aceh, Sabang, Aceh Besar, Aceh Timur, Aceh Tamiang, serta kawasan pesisir utara Pidie, Pidie Jaya, dan Bireuen.
Menurut BMKG, puncak musim kemarau di Aceh diperkirakan terjadi pada Juli 2026 dan akan mencakup sekitar 37,5 persen wilayah provinsi paling barat Indonesia tersebut.
“Sejumlah wilayah telah memasuki musim kemarau. Masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran lahan, sampah maupun aktivitas lain yang berpotensi memicu kebakaran,” kata Nofrida, Sabtu (30/5/2026).
Berdasarkan pemantauan sensor MODIS pada satelit Terra dan Aqua serta sensor VIIRS pada satelit Suomi NPP dan NOAA20, sebanyak 98 titik panas terdeteksi pada 29 Mei 2026.
Titik panas tersebut tersebar di Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Timur, Aceh Utara, Gayo Lues, Nagan Raya, Pidie, Kota Lhokseumawe, dan Kota Subulussalam.
Munculnya puluhan titik panas di awal musim kemarau menjadi perhatian serius karena Aceh dalam beberapa tahun terakhir kerap menghadapi kebakaran lahan yang berdampak pada lingkungan, kesehatan masyarakat, hingga aktivitas ekonomi.
Meski demikian, BMKG menegaskan bahwa musim kemarau di Aceh belum berlangsung merata. Peluang hujan masih cukup tinggi di sejumlah daerah akibat adanya aktivitas gelombang Rossby Ekuatorial yang mendukung pembentukan awan hujan.
Selain itu, keberadaan daerah belokan angin (shearline) dan konvergensi turut memicu pertumbuhan awan konvektif yang berpotensi menghasilkan hujan. Kondisi suhu muka laut yang masih hangat di perairan barat dan timur Sumatera juga meningkatkan pasokan uap air ke atmosfer.
“Kombinasi faktor-faktor tersebut masih mendukung pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah Aceh,” ujar Nofrida.
BMKG mencatat pada 30 Mei 2026 tidak terdapat potensi hujan sedang hingga lebat yang disertai angin kencang di Aceh. Namun, kondisi cuaca diperkirakan berubah dalam beberapa hari ke depan.
Pada 31 Mei 2026, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi di wilayah Aceh Timur.
Sementara pada 1 Juni 2026, hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai angin kencang diprakirakan melanda Aceh Barat, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Tenggara, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Pidie, Pidie Jaya, Sabang, Nagan Raya, dan sejumlah wilayah sekitarnya.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap dua ancaman sekaligus, yakni meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan akibat cuaca kering, serta potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi secara lokal akibat dinamika atmosfer yang terus berkembang.
Di tengah transisi menuju puncak musim kemarau, kedisiplinan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar menjadi kunci penting mencegah terjadinya bencana karhutla yang dapat merugikan banyak pihak.
[Raudhatul Jannah]