
MEDIASURAK.ID BANDA ACEH – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Aceh mencatat trend positif kinerja industri perbankan di Aceh hingga Mei 2026. Total aset bank umum di Aceh kini mencapai Rp65,05 triliun, diikuti peningkatan dana pihak ketiga (DPK) dan pembiayaan dengan kualitas pembiayaan yang tetap terjaga.
“Kinerja bank umum di Aceh hingga Mei 2026 masih menunjukkan kondisi yang solid. Pertumbuhan aset, DPK, dan pembiayaan terus berlanjut secara positif. Fungsi intermediasi juga berjalan optimal yang tercermin dari FDR di atas 100 persen, sementara kualitas pembiayaan tetap terjaga dengan rasio NPF yang rendah,” kata Kepala OJK Provinsi Aceh, Daddi Peryoga, dalam kegiatan media update di Kantor OJK Aceh, Kamis (9/7/2026).
Menurut Daddi berdasarkan data per Mei 2026, total aset bruto perbankan di Aceh tumbuh 6,44 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp65,05 triliun. Sementara itu, penghimpunan DPK tercatat sebesar Rp49,24 triliun atau meningkat 15,65 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Di sisi penyaluran dana, pembiayaan yang disalurkan perbankan mencapai Rp49,95 triliun atau tumbuh 11,66 persen secara tahunan. Rasio Financing to Deposit Ratio (FDR) berada di level 101,43 persen, sedangkan Non Performing Financing (NPF) tetap terjaga rendah di angka 2,16 persen,” ungkapnya.
Capaian tersebut kata dia, mencerminkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan di Aceh, sekaligus menunjukkan kemampuan sektor perbankan dalam menopang aktivitas perekonomian daerah.
OJK mengingatkan adanya potensi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi Aceh, salah satunya fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi pada musim kemarau 2026.
“Dalam kajian OJK, Aceh memiliki tingkat kerentanan yang cukup tinggi terhadap dampak El Nino karena struktur ekonominya masih sangat bergantung pada sektor pertanian. Sektor ini berkontribusi sekitar 32,74 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Aceh dan menyerap sekitar 41,39 persen tenaga kerja,” ujarnya.
Berkurangnya curah hujan akibat El Nino, lanjut Dedi sangat berpotensi mengganggu produksi tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan. Kondisi ini juga dikhawatirkan menekan pendapatan petani, mengurangi pasokan pangan, meningkatkan inflasi pada kelompok volatile food, hingga memperlambat laju pertumbuhan ekonomi daerah.
“Untuk meminimalkan dampak tersebut, OJK mendorong berbagai langkah mitigasi guna menjaga ketahanan sektor pertanian dan stabilitas ekonomi Aceh. Ini dapat dilakukan dengan penguatan informasi iklim dan kalender tanam adaptif, optimalisasi sistem irigasi dan cadangan air. Kami juga mendorong modernisasi sektor pertanian berbasis teknologi, hingga pemanfaatan energi terbarukan guna meningkatkan efisiensi produksi,” tutupnya.



