Ilustrasi angin kencang. [Foto: istockphotos]
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Masyarakat Aceh diminta meningkatkan kewaspadaan dalam beberapa hari ke depan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda (SIM) Banda Aceh mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan melanda sejumlah wilayah Aceh pada 14 hingga 16 Juni 2026.
Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai angin kencang berpotensi terjadi secara tiba-tiba dan dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, genangan air, hingga pohon tumbang.
Forecaster BMKG SIM Banda Aceh, Miftahul Jannah, mengatakan kondisi atmosfer saat ini sangat mendukung terbentuknya awan hujan yang berpotensi berkembang menjadi cuaca ekstrem.
Menurutnya, fenomena tersebut dipengaruhi oleh aktivitas Gelombang Ekuatorial Rossby dan Kelvin yang sedang melintas di wilayah Aceh.
Selain itu, adanya belokan angin (shearline) serta suhu muka laut yang relatif hangat di perairan barat dan selatan Sumatra turut meningkatkan suplai uap air ke atmosfer.
“Faktor-faktor tersebut menyebabkan pertumbuhan awan hujan menjadi lebih signifikan sehingga berpotensi memicu cuaca ekstrem di sejumlah wilayah,” ujar Miftahul, Minggu (14/6/2026).
BMKG memprediksi pada 14 Juni 2026 hujan sedang hingga lebat yang berpotensi disertai angin kencang dapat terjadi di Kabupaten Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Aceh Jaya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Aceh Timur, Aceh Utara, Bener Meriah, Bireuen, Gayo Lues, Pidie, Pidie Jaya, Nagan Raya, Simeulue, serta Kota Subulussalam.
Sementara pada 15 Juni, wilayah yang diperkirakan mengalami kondisi serupa meliputi Aceh Barat, Aceh Tenggara, Bireuen, Gayo Lues, dan Nagan Raya.
Adapun pada 16 Juni, potensi hujan lebat dan angin kencang diprakirakan terjadi di Aceh Tengah, Aceh Timur, Bireuen, Gayo Lues, serta Pidie Jaya.
Tak hanya hujan lebat, BMKG juga mengingatkan adanya potensi angin kencang di Banda Aceh, Aceh Besar, Sabang, dan Aceh Utara pada 14 Juni.
Kondisi tersebut diperkirakan masih akan berlanjut di Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang hingga 16 Juni mendatang.
Miftahul mengimbau masyarakat untuk lebih waspada, terutama mereka yang tinggal di daerah rawan bencana.
“Hujan sedang hingga lebat berpotensi terjadi secara tiba-tiba, khususnya pada sore hingga malam hari. Karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi,” katanya.
Ia menjelaskan, curah hujan yang tinggi dalam waktu singkat dapat memicu meluapnya sungai, banjir di kawasan perkotaan, serta tanah longsor di wilayah perbukitan.
Selain itu, angin kencang yang menyertai hujan juga berpotensi menyebabkan pohon tumbang dan kerusakan pada bangunan yang tidak kokoh.
Karena itu, masyarakat diminta berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan maupun berkendara ketika cuaca mulai memburuk.
BMKG mengingatkan warga agar tidak berteduh di bawah pohon besar, baliho, maupun bangunan yang berisiko roboh saat hujan lebat dan angin kencang terjadi.
Para nelayan dan masyarakat yang beraktivitas di kawasan pesisir juga diminta memperhatikan perkembangan informasi cuaca sebelum melaut.
“Selalu perhatikan informasi resmi dari BMKG dan segera lakukan langkah antisipasi jika terjadi perubahan cuaca yang signifikan,” ujar Miftahul.
BMKG menegaskan bahwa pemantauan kondisi cuaca terus dilakukan secara berkala.
Masyarakat diharapkan tidak mengabaikan peringatan dini yang dikeluarkan karena perubahan cuaca dapat berlangsung cepat dan berdampak langsung terhadap keselamatan jiwa maupun aktivitas sehari-hari.
Di tengah perubahan iklim global yang membuat pola cuaca semakin sulit diprediksi, kewaspadaan dan kesiapsiagaan menjadi benteng utama masyarakat untuk menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi.
Karena itu, tiga hari ke depan menjadi masa yang penting bagi warga Aceh untuk lebih waspada, saling mengingatkan, dan memastikan keselamatan keluarga tetap menjadi prioritas utama.
[Raudhatul Jannah]
