Ilustrasi. Dapur MBG.[Foto/Kompas.com]
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Setelah sempat terhenti akibat belum cairnya anggaran dari pemerintah pusat, sebanyak 27 dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Aceh Besar kini kembali beroperasi. Pencairan dana operasional menjadi angin segar yang menghidupkan kembali layanan makanan bergizi bagi ribuan penerima manfaat sekaligus menggerakkan para relawan dan pelaku usaha lokal yang terlibat dalam program tersebut.
Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Aceh Besar, Feisal Akbar, mengatakan seluruh dapur yang sebelumnya terdampak kini telah kembali menjalankan aktivitas sejak Senin (15/6/2026).
“Benar, dapur MBG yang sebelumnya berhenti kini sudah kembali beroperasi. Anggaran operasional telah cair sejak Senin,” kata Feisal, Rabu (17/6/2026).
Menurutnya, dana operasional tersebut telah masuk ke rekening Virtual Account (VA) masing-masing SPPG sehingga proses pelayanan dan distribusi makanan bergizi dapat kembali berjalan normal.
“Begitu dana masuk ke rekening masing-masing SPPG, seluruh aktivitas langsung kembali berjalan. Kami bersyukur karena pelayanan kepada penerima manfaat tidak lagi terhambat,” ujarnya.
Sebelumnya, puluhan dapur MBG di Aceh Besar terpaksa menghentikan operasional sementara akibat belum cairnya anggaran operasional dari Badan Gizi Nasional (BGN).
Kondisi tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran karena berdampak pada distribusi makanan bergizi ke sejumlah sekolah dan kelompok penerima manfaat lainnya.
Feisal menjelaskan, saat ini terdapat 60 dapur MBG yang tersebar di Aceh Besar. Dari jumlah tersebut, sebanyak 54 dapur telah beroperasi, sedangkan enam dapur lainnya masih dalam proses penyelesaian administrasi.
“Secara keseluruhan sudah 54 dapur yang aktif. Enam dapur lagi sedang menyelesaikan administrasi dan kami berharap segera menyusul untuk beroperasi,” jelasnya.
Ia menambahkan, penghentian operasional yang terjadi sebelumnya tidak hanya berdampak pada penerima manfaat, tetapi juga mempengaruhi para relawan dan pekerja dapur yang harus menghentikan aktivitas sementara.
Selain itu, para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi mitra penyedia bahan pangan untuk dapur MBG juga ikut merasakan dampak akibat tertundanya pencairan anggaran tersebut.
“Program MBG ini melibatkan banyak pihak. Ketika dapur berhenti beroperasi, maka dampaknya juga dirasakan oleh para pekerja dan UMKM yang memasok bahan pangan,” katanya.
Dengan kembali cairnya dana operasional, Feisal berharap seluruh dapur MBG di Aceh Besar dapat terus menjalankan pelayanan secara berkelanjutan sehingga manfaat program dapat dirasakan secara optimal oleh masyarakat.
Program Makan Bergizi Gratis sendiri merupakan salah satu program strategis nasional yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak usia sekolah.
Karena itu, kelancaran pendanaan menjadi faktor penting agar rantai pelayanan, mulai dari penyediaan bahan pangan, pengolahan makanan, hingga distribusi kepada penerima manfaat, dapat berjalan tanpa hambatan.
Kini, setelah sempat terhenti, dapur-dapur MBG di Aceh Besar kembali mengepul. Bukan sekadar memasak makanan, tetapi juga menjaga harapan agar generasi muda tumbuh lebih sehat, kuat, dan siap menghadapi masa depan.
[Raudhatul Jannah]
