Suasana penumpang di Soetta untuk meminta jadwal kembali sehingga mereka bisa berangkat.
MEDIASURAK.ID, JAKARTA – Erupsi Gunung Anak Krakatau tak hanya mengguncang kawasan Selat Sunda. Abu vulkaniknya merambat ke ruang udara dan memaksa operasional penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, dihentikan sementara.
Hingga Minggu (6/9) pukul 21.30 WIB, sebanyak 1.039 penerbangan di Soetta terdampak erupsi tersebut. Gangguan itu mencakup penerbangan yang dibatalkan, mengalami keterlambatan, hingga dialihkan pendaratannya ke bandara lain.
Assistant Deputy Communication & Legal Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Yudistiawan, mengatakan ribuan penerbangan tersebut berdampak terhadap 166.351 penumpang.
“Berdasarkan data penerbangan pukul 21.30 WIB, terdapat 1.039 penerbangan terdampak, akumulasi dari pembatalan penerbangan, keterlambatan penerbangan, pengalihan pendaratan penerbangan ke bandara lain, dan sebagainya,” katanya di Tangerang, Minggu.
Dari total penerbangan terdampak tersebut, sebanyak 746 merupakan penerbangan domestik, 272 penerbangan internasional, dan 21 penerbangan kargo.
Gangguan penerbangan terjadi setelah sebaran abu vulkanik Anak Krakatau meluas dan memasuki jalur penerbangan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut berdasarkan analisis citra satelit pada Minggu pukul 08.00 WIB, terdapat dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.
Pada ketinggian hingga 20.000 kaki, abu bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat serta perairan sekitarnya.
Sementara pada ketinggian hingga 50.000 kaki, abu bergerak ke arah barat daya hingga barat laut, mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan hingga Samudra Hindia.
Kondisi tersebut membuat keselamatan penerbangan menjadi perhatian utama. BMKG bahkan telah menerbitkan 18 Significant Meteorological Information (SIGMET) secara berkala sejak erupsi awal terdeteksi pada 4 September 2026.
SIGMET merupakan peringatan meteorologi penting bagi penerbangan yang digunakan untuk memberi informasi mengenai kondisi atmosfer yang berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan.
Delapan Bandara Ditutup
Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau AirNav Indonesia kemudian memperbarui informasi aeronautika terkait penutupan sementara sejumlah bandar udara yang terdampak sebaran abu vulkanik Anak Krakatau.
EVP of Corporate Secretary AirNav Indonesia Hermana Soegijantoro mengatakan penutupan sementara operasional Soetta dan sejumlah bandara lainnya diperpanjang hingga estimasi pukul 23.59 WIB.
Penutupan Soetta dilakukan berdasarkan NOTAM A3355/26 (NOTAMR A3351/26) dan berlaku mulai pukul 18.00 WIB pada 6 September 2026.
Selain Soetta, status closed akibat abu vulkanik juga diberlakukan di Bandara Halim Perdanakusuma, Husein Sastranegara, Pondok Cabe, Budiarto, Radin Inten II, Pagar Alam, dan Taufik Kiemas.
AirNav menyebut penutupan tersebut dilakukan untuk mendukung keselamatan penerbangan di tengah perkembangan sebaran abu vulkanik yang dinamis.
Penumpang Terlantar Ditangani
Di tengah gangguan operasional tersebut, pengelola Soetta mengaktifkan Service Recovery Activation (SRA) untuk menangani penumpang yang terdampak.
Bandara menyediakan makanan dan minuman ringan serta menyiapkan bus di setiap terminal untuk membantu mobilitas penumpang menuju hotel melalui koordinasi dengan maskapai.
InJourney Airports juga menyiapkan layanan bus gratis menuju Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Surabaya. Pada tahap awal, delapan bus disiapkan, masing-masing dua bus untuk setiap tujuan, dengan keberangkatan pertama pada Minggu pukul 21.00 WIB.
Penumpang terdampak dapat mendaftarkan diri melalui posko yang disiapkan di Terminal 1, Terminal 2, dan Terminal 3.
Selain itu, sejumlah area khusus di terminal, termasuk Employee Lounge, dimanfaatkan sebagai tempat istirahat sementara bagi penumpang terdampak.
Posko di Terminal 1B juga dibuka untuk memperkuat koordinasi penanganan kondisi operasional di lapangan. Sementara maskapai membuka layanan di masing-masing terminal untuk memberikan informasi dan penanganan kepada penumpang.
Keselamatan Jadi Prioritas
Erupsi Anak Krakatau kali ini menunjukkan bagaimana aktivitas sebuah gunung api di Selat Sunda dapat dengan cepat menjalar menjadi persoalan transportasi udara dalam skala luas.
Abu vulkanik bukan sekadar persoalan jarak pandang. Material tersebut dapat membahayakan mesin pesawat dan sistem penerbangan sehingga pergerakan sebarannya harus terus dipantau sebelum pesawat kembali diizinkan beroperasi.
Karena itu, penutupan sementara sejumlah bandar udara bukan semata gangguan perjalanan, melainkan langkah mitigasi untuk mencegah risiko yang lebih besar.
BMKG menegaskan kondisi operasional penerbangan dapat berubah mengikuti perkembangan sebaran abu vulkanik dan informasi keselamatan penerbangan. Keputusan penutupan dilakukan melalui koordinasi antara otoritas bandar udara, BMKG, AirNav Indonesia, pengelola bandara, serta pemangku kepentingan terkait.
Bagi 166.351 penumpang yang perjalanannya terganggu, erupsi Anak Krakatau pada akhirnya bukan lagi sekadar berita tentang aktivitas gunung api.
Abu yang beterbangan dari Selat Sunda telah menjalar ke langit, mengubah jadwal perjalanan ribuan orang dan kembali mengingatkan bahwa ketika alam bergerak, batas antara bencana dan kehidupan sehari-hari dapat hilang dalam hitungan jam.[]




