
Dua santri Dayah Insan Qur’ani Aceh Besar yang lulus beasiswa penuh dari kerajaan Maroko (ANTARA/HO/Insan Qur’ani)
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Dayah di Aceh kembali menunjukkan perannya sebagai kawah candradimuka lahirnya generasi ulama berkelas dunia. Keberhasilan dua santri Dayah Insan Qur’ani Aceh Besar meraih beasiswa Kerajaan Maroko tahun 2026 menambah panjang jejak lembaga pendidikan Islam tersebut dalam mengirim kader terbaiknya menimba ilmu ke negeri para ulama itu.
Dua santri yang berhasil lolos ialah Rizqa Aufa sebagai calon penerima beasiswa utama dan Kayyisa Farras sebagai calon penerima beasiswa cadangan. Dengan capaian tersebut, Dayah Insan Qur’ani kini telah memiliki lima kader yang menempuh pendidikan tinggi di Maroko.
Sebelumnya, tiga alumni dayah tersebut telah lebih dahulu melanjutkan studi di negara Afrika Utara itu, yakni Asyraf Muntazhar pada jenjang doktoral, serta M. Ihlal Fikri dan M. Fataya Al Muwahhid pada jenjang sarjana.
Program beasiswa Kerajaan Maroko merupakan salah satu beasiswa paling kompetitif yang diselenggarakan Kementerian Agama RI bersama Konsorsium Pusat Bahasa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Tahun ini sekitar 600 peserta dari seluruh Indonesia mengikuti seleksi CBT Bahasa Arab, namun hanya 50 orang dinyatakan sebagai penerima beasiswa utama dan 26 lainnya sebagai penerima cadangan.
Selain kemampuan akademik, peserta juga diuji hafalan Al-Qur’an, kemampuan membaca kitab kuning, komunikasi bahasa Arab, wawasan keislaman, moderasi beragama, serta wawasan kebangsaan.
Pimpinan Dayah Insan Qur’ani, Ustadz Muzakkir Zulkifli, menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan tersebut. Menurutnya, prestasi itu merupakan buah dari pembinaan yang dilakukan secara berkesinambungan di lingkungan dayah.
“Alhamdulillah, ini merupakan kabar yang sangat membahagiakan. Beasiswa Kerajaan Maroko memiliki tingkat persaingan yang sangat tinggi sehingga keberhasilan dua santri kami menjadi anugerah yang patut disyukuri,” ujarnya.
Ia menegaskan, keberhasilan para santri tersebut membuktikan bahwa pendidikan dayah tidak hanya mampu melahirkan penghafal Al-Qur’an dan pendalami ilmu agama, tetapi juga melahirkan generasi yang mampu bersaing pada level nasional hingga internasional.
Menurut Muzakkir, keberadaan alumni yang telah lebih dahulu belajar di Maroko menjadi inspirasi sekaligus motivasi bagi para santri untuk terus meningkatkan kualitas diri.
“Kami berharap Rizqa dan Kayyisa dapat mengikuti jejak para seniornya serta kelak kembali mengabdi kepada agama, masyarakat, dan bangsa dengan ilmu yang mereka peroleh,” katanya.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa dayah di Aceh terus bertransformasi menjadi lembaga pendidikan Islam modern yang mampu melahirkan sumber daya manusia unggul. Dari Serambi Makkah, lahir generasi muda yang siap membawa keilmuan Islam Aceh ke panggung dunia sekaligus memperkuat hubungan intelektual antara Indonesia dan Maroko yang telah terjalin selama puluhan tahun.[am]



