
Tentera Amerika siaga di pangkalan Udara AS di Qatar. pertama
CAKRADUNIA.CO, JAKARTA – Ketegangan di Timur Tengah memuncak kembali setelah Iran melancarkan serangan terhadap pangkalan udara Amerika Serikat, memicu Kuwait mengaktifkan sistem pertahanan udaranya dan meningkatkan status siaga nasional, Kamis (28/5/2026).
Militer Kuwait melalui pernyataan resmi di platform X mengungkapkan bahwa mereka mendeteksi “ancaman rudal dan drone bermusuhan” yang memasuki wilayah udara regional. Sistem perlindungan udara negara Teluk itu langsung diaktifkan untuk mencegat objek yang dianggap mengancam.
Pengumuman yang terdengar di sejumlah wilayah Kuwait disebut berasal dari intersepsi rudal dan drone oleh sistem pertahanan udara mereka. Meski tidak secara terbuka menyebut asal serangan, situasi itu terjadi hanya beberapa jam setelah eskalasi terbaru antara Amerika Serikat dan Iran.
Menurut laporan media AS, pasukan Amerika melancarkan serangan terhadap situs militer Iran yang dianggap mengancam pasukan AS serta jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz — jalur perdagangan vital energi dunia.
Sebagai balasannya, Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC mengklaim telah menyerang pangkalan udara AS setelah serangan Washington di luar Bandara Bandar Abbas.
“Jika itu terulang, tanggapan kami akan lebih tegas,” tegas IRGC dalam pernyataan yang dipublikasikan kantor berita Tasnim.
Situasi ini menandai babak baru konfrontasi terbuka antara Iran dan Amerika Serikat, yang selama beberapa bulan terakhir melibatkan ketegangan di kawasan Teluk Persia.
Pada saat yang sama, Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi baru terhadap Otoritas Selat Teluk Persia Iran, lembaga yang mengatur lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Washington menuduh lembaga tersebut memberikan dukungan ekonomi kepada IRGC melalui pungutan transit kapal internasional.
AS diperingatkan bahwa pihak mana pun yang bekerja sama dengan otoritas itu berpotensi terkena sanksi karena dianggap membantu aktivitas IRGC.
Ketegangan tersebut langsung mengguncang pasar energi global. Harga minyak dunia melonjak lebih dari 3 persen, dengan minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) mengalami kenaikan tajam akibat kekhawatiran terganggunya distribusi minyak melalui Selat Hormuz.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Setiap ancaman terhadap kawasan itu selalu memicu ketakutan pasar internasional.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya mengatakan Washington masih membuka peluang diplomasi dengan Teheran.
Dalam rapat kabinet Presiden Donald Trump, Rubio berbicara tentang pembicaraan dengan Iran yang menunjukkan “beberapa kemajuan.”
Namun ia juga menegaskan bahwa AS memiliki “pilihan lain” jika jalur diplomasi gagal, yang diyakini merujuk pada kemungkinan operasi militer lanjutan.
Eskalasi terbaru ini meningkatkan kekhawatiran dunia internasional akan memecahkannya konflik yang lebih luas di Timur Tengah yang dapat menyeret negara-negara Teluk, mengganggu perdagangan global, serta membantu krisis kemanusiaan dan ekonomi dunia.[hr]



