
MEDIASURAK.ID BANDA ACEH — Kepala Badan Pengelolaan Migas Aceh (BPMA) Mawardi Nur menyampaikan agenda prioritasnya usai dipercaya menjabat kepala badan yang dibentuk mengelola, dan mengendalikan kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi di wilayah Aceh. Selain peningkat lifting minyak dan gas Mawardi akan berfokus upaya optimallisasi potensi sumur tua dan sumur masyarakat, serta memperkuat peran pelaku usaha lokal dan sumber daya manusia Aceh.
“Perlu saya sampaikan kepada bapak ibu sekalian, saya punya tiga fokus yang menjadi agenda utama, dimana kita berfokus terhadap meningkatnya lifting, minyak dan gas bumi melalui optimalisasi produksi lapangan eksisting, percepatan pengembangan lapangan baru, pemanfaatan teknologi yang efektif, serta penguatan sinergi dengan seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS),”kata Mawardi Nur saat memberi sambutan dalam serah terima jabatan di Ruang Meeting Room Arun Kantor BPMA Aceh, Senin (10/08/2026).
Menurut Mawardi, peningkatan lifting merupakan salah satu indikator penting mendukung ketahanan energi sekaligus meningkatkan kontribusi sektor hulu migas terhadap penerimaan negara.
“Kedua, mengoptimalkan potensi sumur tua dan sumur masyarakat. BPMA akan mendorong pengembangan ekosistem sumur tua dan sumur masyarakat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, termasuk Permen ESDM Nomor 14 Tahun 2025,” kata Mawardi.

Pengelolaan potensi sumur tua dan sumur masyarakat kata Mawardi akan dilakukan dengan mengedepankan aspek legalitas, keselamatan kerja, perlindungan lingkungan, dan produktivitas. Tak hanya itu pengelolaannya harus memiliki kepastian hukum, sehingga potensi sumur-sumur tersebut memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan daerah.
“Ketiga, memperkuat peran pelaku usaha lokal dan sumber daya manusia Aceh. BPMA akan membuka ruang yang semakin luas bagi keterlibatan pengusaha lokal, serta mendorong peningkatan kapasitas SDM Aceh agar mampu berperan dalam rantai bisnis industri hulu migas,”ujar Mawardi.
Mawardi menyebut pengelolaan migas tidak hanya berbicara mengenai produksi dan lifting, tetapi bagaimana sektor ini memberikan ruang yang lebih luas bagi pengusaha lokal dan memperkuat sumber daya manusia Aceh. Ia juga menegaskan komitmen BPMA untuk membuka ruang seluas-luasnya bagi investasi dan kerja sama yang sehat di sektor hulu migas.
“Kami siap menjadi mitra yang profesional, responsif, transparan, dan memberikan kepastian dalam proses bisnis. KKKS, investor, kontraktor nasional maupun lokal, akademisi, serta dunia usaha diharapkan dapat membangun kolaborasi yang produktif dengan tetap berpedoman pada regulasi dan prinsip tata kelola yang baik,”ujarnya.
Komitmen tersebut kata Mawardi sekaligus sebagai pesan bahwa Aceh adalah wilayah yang layak, aman, dan menarik untuk berinvestasi di sektor hulu migas. Mawardi menyampaikan berbagai fondasi yang telah dibangun merupakan modal penting untuk dilanjutkan, diperkuat, dan disempurnakan guna menghadapi tantangan industri hulu migas yang semakin dinamis.
“Mulai hari ini, tidak ada lagi kelompok, tidak ada lagi sekat, dan tidak ada lagi kepentingan pribadi maupun golongan dalam BPMA. Yang ada adalah satu tujuan. Loyalitas kita adalah kepada institusi, amanah negara, dan kepentingan masyarakat Aceh,” tegas Mawardi Nur.
BPMA kata Mawardi, harus menjadi organisasi yang profesional, cepat dalam mengambil keputusan, bersih dalam tata kelola, serta berorientasi pada hasil. Untuk itu, perubahan budaya kerja menjadi salah satu hal yang perlu diperkuat agar seluruh jajaran BPMA dapat bekerja lebih produktif, kolaboratif, dan adaptif terhadap dinamika industri hulu migas.
“Budaya kerja yang lamban dan tidak berorientasi pada kinerja harus kita tinggalkan. Kita harus bekerja dengan integritas, kompetensi, disiplin, dan semangat memberikan pelayanan terbaik,” ujarnya.
Berlangsung diruang Meeting Room Arun Kantor BPMA di Banda Aceh, kegiatan serah terima dihadiri unsur Pemerintah Aceh, BPH Migas, SKK Migas Sumbagut, KKKS di wilayah kerja Aceh (Medco E&P Malaka, PGE, Triangle Pasee Inc, Aceh Energi, dan Onwa-Oswa). Turut hadir Pertamina EP dan NSO, DPRA Komisi II dan III, Kodam Iskandar Muda, Polda Aceh, Kejaksaan Tinggi Aceh, Universitas Syiah Kuala (USK), UIN Ar-Raniry, Bsi, Bank Aceh serta PT PEMA.
Sementara itu, Gubernur Aceh melalui Asisten II Sekda Aceh menyampaikan ucapan selamat kepada Mawardi Nur atas amanah yang diberikan sebagai Kepala BPMA. Gubernur berharap Mawardi menjalankan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya serta mendapat kemudahan dan keberkahan dari Allah SWT.
“Kami mengucapkan selamat kepada Bapak Mawardi Nur. Mari kita bersama-sama melanjutkan hal-hal baik yang telah dibangun selama ini. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan, kekuatan, dan keberkahan dalam menjalankan amanah ini,” ujar Gubernur Aceh melalui Asisten II Sekda Aceh.
Pergantian kepemimpinan di BPMA kata Gubernur, merupakan bagian dari keberlanjutan pengelolaan migas di Aceh. Pergantian juga momentum pendelegasian amanah dari putra terbaik Aceh kepada putra terbaik Aceh lainnya untuk melanjutkan tugas dan tanggung jawab dalam mengelola sektor migas Aceh.
“Ini bukan hanya tentang bagaimana kita mengelola migas. Lebih dari itu, pengelolaan migas harus memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan dan pengembangan Aceh, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat,” katanya.
Gubernur Aceh menekankan pentingnya memperkuat komunikasi, koordinasi, dan sinergi antara seluruh pemangku kepentingan, termasuk Pemerintah Aceh, BPMA, pemerintah pusat, SKK Migas, KKKS, dan para mitra lainnya.
“Komunikasi dan koordinasi antar pemangku kepentingan, termasuk dengan para mitra BPMA dan SKK Migas, perlu terus ditingkatkan. Dengan sinergi dan komunikasi yang baik, kita berharap pengelolaan migas di Aceh dapat semakin optimal dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi kemajuan Aceh,” ujarnya.
Mawardi Nur menjabat Kepala BPMA sesuai surat keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 320.K/KP.05/MEM.S/2026. Sesuai surat tentang pemberhentian dan pengangkatan dari dan dalam jabatan kepala BPMA itu, Mawardi Nur menggantikan Nasri Jalal, pejabat sebelumnya.



