
Jenderal Ahmad Vihidi
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Jenderal Vahidi kembali menjadi sorotan dunia di tengah memanasnya hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Sosok yang kini memimpin Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) itu disebut sebagai tokoh paling berpengaruh di balik sikap keras Teheran selama perang dan masa gencatan senjata.
Menurut sejumlah analis geopolitik yang dikutip media internasional, Vahidi menjadi figur sentral dalam keputusan strategis Iran, mulai dari penutupan Selat Hormuz, penolakan penghentian pengayaan uranium, hingga tekanan terhadap negara-negara Teluk Persia.
Vahidi ditunjuk sebagai kepala IRGC pada Maret 2026 setelah pendahulunya, Mohammad Pakpour, tewas dalam serangan pada awal perang AS-Israel melawan Iran. Sejak saat itu, Iran dinilai mengambil posisi lebih agresif dalam komunikasi maupun negosiasi dengan Presiden AS, Donald Trump.
Media Amerika, termasuk The New York Times, bahkan menyebut Vahidi sebagai “penghalang utama Trump menuju perdamaian”. Sementara lembaga pemikir berbasis di Washington, ISW, menilai Vahidi dan lingkarannya kini mengendalikan operasi militer sekaligus arah negosiasi Iran.
Salah satu keputusan paling kontroversial Vahidi adalah mempertahankan penutupan Selat Hormuz yang berdampak besar terhadap distribusi energi global. Di bawah kepemimpinannya, IRGC juga disebut menyerang fasilitas minyak dan infrastruktur strategis di kawasan Teluk Persia.
“Dia berpengaruh dan bagian penting dari sistem kekuasaan Iran,” ujar Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, Ali Vaez.
Latar belakang Vahidi juga dikenal kontroversial. Sejak 2007, ia masuk daftar buronan Interpol terkait dugaan keterlibatan dalam pengeboman pusat komunitas Yahudi di Argentina tahun 1994 yang menewaskan 85 orang.
Meski demikian, pengaruhnya di Iran justru semakin besar. Mantan pejabat intelijen militer Israel, Danny Citrinowicz, menyebut Vahidi sebagai sosok “sangat dominan” dan “radikal” dalam lingkar elite Iran.
“Tidak ada keputusan besar tanpa persetujuan dia,” ujar Citrinowicz.
Di tengah meningkatnya optimisme tercapainya kesepakatan damai AS-Iran, laporan media Inggris The Telegraph menyebut Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, masih belum menyepakati detail final kerangka perdamaian.
Sebelumnya, Trump mengklaim bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang “sebagian besar telah dinegosiasikan” dan tinggal menunggu finalisasi. Salah satu poin utama yang dibahas adalah pembukaan kembali Selat Hormuz dan negosiasi program nuklir Iran. []