
buk Sri sedang menunggu pembeli. [Foto: Anisaton Humaira/mediasurak.id]
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH — Di tengah kebutuhan mahasiswa mencari lauk murah namun tetap enak, lapak kuliner siap saji milik Sri Mulyani atau yang akrab disapa Buk Sri menjadi salah satu tempat favorit mahasiswa di Banda Aceh.
Lapak sederhana yang berada sebelum naik Jembatan Lamnyong, tepat di samping SDN 68 Banda Aceh, Gampong Lamgugop, Kecamatan Syiah Kuala itu nyaris tak pernah sepi pembeli, terutama saat jam pulang kuliah.
Dengan harga serba Rp5 ribu, mahasiswa bisa memilih beragam lauk rumahan yang sudah siap santap. Tak heran, setiap harinya lapak tersebut mampu meraih omzet lebih dari Rp500 ribu.
Buk Sri mulai berjualan sejak pukul 11.00 WIB hingga sekitar pukul 16.00 WIB. Namun sebelum jam tutup, dagangannya hampir selalu habis terjual.
“Kalau sudah jam 4 sore, habis nggak habis tetap tutup. Tapi alhamdulillah biasanya selalu habis, kecuali kalau hujan,” ujar Sri Mulyani.
Menariknya, lauk yang dijual di lapak itu bukan seluruhnya hasil masakan Buk Sri. Saat ini, sekitar 30 orang menitipkan berbagai jenis lauk untuk dijual di tempatnya. Meski begitu, Buk Sri mengaku sangat selektif menerima titipan.
Ia selalu mencicipi terlebih dahulu setiap lauk sebelum dijual kepada pelanggan. Menurutnya, mahasiswa sangat memperhatikan rasa meskipun membeli lauk dengan harga murah.
“Saya tidak sembarangan menerima lauk titipan, karena mahasiswa maunya lauk yang enak dan harganya murah,” katanya.
Usaha tersebut telah dijalankan Buk Sri selama kurang lebih 10 tahun. Pada awal merintis usaha, ia memasak sendiri seluruh lauk yang dijual setiap hari karena belum ada orang yang menitipkan dagangan.
Selama tiga tahun pertama, semua menu merupakan hasil olahan tangannya sendiri. Namun seiring bertambahnya pelanggan dan semakin dikenalnya lapak tersebut, banyak warga mulai tertarik menitipkan lauk hingga akhirnya seluruh menu yang dijual sekarang berasal dari para penitip.
Bagi mahasiswa, lapak Buk Sri bukan sekadar tempat membeli lauk murah, tetapi juga menjadi “penyelamat” anak kos yang ingin makan enak tanpa menguras kantong.
Hampir setiap hari, mahasiswa tampak berhenti membeli lauk sebelum kembali ke kos atau rumah masing-masing. Pilihan lauk yang beragam serta harga yang terjangkau menjadi alasan utama lapak tersebut tetap ramai pembeli.
Selama berjualan, Buk Sri mengaku tidak memiliki kendala besar. Tempat berjualan yang digunakan merupakan milik pemilik kos tempat ia tinggal sekaligus mengelola kos tersebut.
Kendala utama biasanya hanya saat hujan turun karena jumlah pembeli berkurang dan dagangan lebih banyak tersisa.
Meski demikian, Buk Sri selalu berusaha menjaga keadilan bagi seluruh penitip lauk. Ia memastikan hasil penjualan dibagi secara merata agar semua penitip mendapat kesempatan yang sama.
“Kalau ada lima lauk yang laku, ya diusahakan rata semua. Kalau ada sisa juga dibagi rata,” tuturnya.