
Ilustrasi:ekspor impor. [Foto: Shutterstock]
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Neraca perdagangan luar negeri Aceh kembali mengalami defisit pada Mei 2026 setelah nilai impor melonjak jauh melampaui capaian ekspor. Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat defisit perdagangan mencapai USD51,92 juta, dipicu lonjakan impor lebih dari dua kali lipat dibandingkan bulan sebelumnya, sementara ekspor justru mengalami penurunan.
Pelaksana Harian (Plh.) Kepala BPS Aceh, Abd. Hakim, mengatakan nilai ekspor Aceh pada Mei 2026 tercatat sebesar USD52,88 juta, turun 7,21 persen dibandingkan April 2026. Meski demikian, dibandingkan periode yang sama tahun lalu, nilai ekspor masih tumbuh 5,13 persen.
Sebagian besar aktivitas ekspor dilakukan melalui pelabuhan di Aceh dengan nilai mencapai USD37,75 juta atau sekitar 71,38 persen dari total ekspor. Sementara sisanya senilai USD15,11 juta dikirim melalui pelabuhan di provinsi lain, terutama Sumatera Utara.
“Selama Mei 2026, tujuan ekspor terbesar Aceh adalah India dengan nilai mencapai USD22,35 juta yang didominasi komoditas batu bara,” kata Abd. Hakim, Rabu (1/7/2026).
Selain India, Amerika Serikat menjadi tujuan ekspor terbesar kedua dengan nilai USD7,25 juta, yang didominasi komoditas kopi dan rempah-rempah. Posisi berikutnya ditempati Tiongkok dengan nilai ekspor USD7,16 juta, yang sebagian besar berasal dari komoditas batu bara.
Secara keseluruhan, batu bara masih menjadi tulang punggung ekspor Aceh dengan nilai mencapai USD36,68 juta atau sekitar 69,37 persen dari total ekspor. Selain itu, kopi, rempah-rempah, serta bahan anyaman nabati dan berbagai produk berbasis tanaman lainnya turut memberikan kontribusi terhadap kinerja ekspor daerah.
Di sisi lain, nilai impor Aceh justru melonjak tajam menjadi USD104,80 juta pada Mei 2026. Nilai tersebut meningkat 112,78 persen dibandingkan April 2026 dan naik 75,85 persen dibandingkan Mei tahun sebelumnya.
Menurut Abd. Hakim, Amerika Serikat menjadi negara asal impor terbesar dengan nilai mencapai USD84,30 juta. Impor dari negara tersebut didominasi komoditas gas propana dan butana.
“Selain Amerika Serikat, impor terbesar berikutnya berasal dari Tiongkok senilai USD14,43 juta yang didominasi bahan kimia anorganik dan pupuk, kemudian India sebesar USD3,04 juta dengan komoditas utama bahan kimia anorganik,” ujarnya.
BPS juga mencatat gas propana dan butana menjadi komoditas impor terbesar dengan nilai USD84,30 juta atau sekitar 80,44 persen dari total impor. Komoditas lain yang banyak diimpor meliputi bahan kimia anorganik serta pupuk untuk mendukung berbagai sektor usaha.
Besarnya nilai impor yang melampaui ekspor menyebabkan neraca perdagangan luar negeri Aceh pada Mei 2026 mengalami defisit sebesar USD51,92 juta. Berdasarkan data BPS, sepanjang periode Mei 2025 hingga Mei 2026, kondisi serupa juga pernah terjadi pada Mei 2025 dan Oktober 2025.
Data tersebut menunjukkan struktur perdagangan Aceh masih sangat bergantung pada ekspor komoditas primer, terutama batu bara, sementara kebutuhan impor energi dan bahan baku industri tetap tinggi. Kondisi ini membuat neraca perdagangan rentan mengalami defisit ketika terjadi lonjakan impor dalam jumlah besar, meskipun kinerja ekspor masih menunjukkan pertumbuhan secara tahunan.
[Raudhah]



