
MEDIASURAK.ID BANDA ACEH – Ribuan masyarakat mengikuti zikir akbar dan doa tolak bala memperingati 21 tahun perdamaian Aceh di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026). Selain zikir dan doa bersama, massa menyampaikan aspirasi menyorot berbagai persoalan di Aceh, mulai pelaksanaan syariat Islam, lingkungan, sumber daya alam hingga keberlanjutan perdamaian.
“Salah satu tuntutan ditujukan kepada TNI, Polri dan Kejaksaan agar menghormati serta berkomitmen terhadap penerapan syariat Islam secara kaffah,” kata koordinator aksi, Tgk Muslim At-Thahiry.
Tgk Muslim At-Thahiry, mengatakan terdapat 10 tuntutan yang disampaikan dalam kegiatan itu, mencakup sejumlah isu yang dinilai berkaitan dengan kepentingan masyarakat serta masa depan Aceh. Massa juga meminta aparat tunduk dan patuh terhadap qanun, fatwa serta tausiyah yang dikeluarkan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh.
“Pemerintah Aceh didesak segera menyusun qanun terkait penggunaan media sosial yang dinilai perlu disesuaikan dengan prinsip syariat Islam dan kearifan lokal,”katanya.
Massa juga meminta penguatan kelembagaan Wilayatul Hisbah di bawah Dinas Syariat Islam. Selain itu, pemerintah pusat juga didesak mengembalikan Tanah Wakaf Blang Padang Banda Aceh kepada Masjid Raya Baiturrahman tanpa syarat.
Dalam persoalan sumber daya alam, peserta aksi meminta pemerintah menghentikan eksploitasi minyak dan gas bumi, pertambangan emas serta aktivitas pengambilan pasir secara ilegal.
Mereka juga menolak rencana pemasangan pipa gas Andaman menuju Pulau Jawa dan meminta agar manfaat pengelolaan sumber daya alam dapat dirasakan secara lebih merata oleh masyarakat Aceh.
Persoalan infrastruktur turut menjadi perhatian. Massa mendesak Pemerintah Pusat segera memperbaiki seluruh infrastruktur yang rusak maupun hilang akibat bencana hidrometeorologi. Perbaikan tersebut dinilai penting agar kondisi bencana tidak semakin memperburuk kehidupan dan meningkatkan kemiskinan masyarakat Aceh.
Dalam aksi ini massa turut menyuarakan agar seluruh elemen masyarakat Aceh, mulai dari ulama, santri, geuchik, mukim, majelis adat, pengusaha, pemuda, organisasi masyarakat hingga tokoh masyarakat, bersatu dalam mendukung pelaksanaan syariat Islam serta amar makruf nahi mungkar.
Massa juga membawa tuntutan terkait sejarah dan status Aceh. Mereka meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan komunitas internasional mengembalikan status quo ante bellum Aceh. Selain itu, PBB didesak mengadili pihak-pihak yang disebut bertanggung jawab atas pelanggaran HAM berat di Aceh melalui mekanisme Mahkamah Pidana Internasional.
“Apabila tuntutan tersebut tidak dipenuhi, kami meminta PBB dan masyarakat internasional menyelenggarakan self-determination right di Aceh,” lanjutnya.
Setelah penyampaian aspirasi, ribuan peserta kemudian mengikuti zikir akbar dan doa bersama. Doa tolak bala dipanjatkan sebagai bagian dari rangkaian peringatan 21 tahun perdamaian Aceh.
Berakhir Ricuh
Meski berlangsung khidmat, moment peringatan 21 Hari Damai Aceh di Komplek Masjid Raya Baiturrahman diwarai kericuhan. Kericuhan terjadi usai rangkaian orasi dalam peringatan Hari Damai Aceh berakhir. Polisi melepas gas air mata setelah sejumlah orang peserta aksi, melempari kendaraan personel Brigade Mobil (Brimob) menggunakan batuguna.
Sejumlah dentuman terdengar dari arah aparat ketika polisi berupaya mengendalikan situasi. Kondisi semakin tidak terkendali hingga polisi akhirnya menembakkan gas air mata ke arah massa untuk membubarkan kerumunan.
Warga yang berada di sekitar lokasi langsung berhamburan meninggalkan halaman masjid. Sejumlah orang terlihat berlari menjauh setelah gas air mata menyebar di kawasan tersebut.
Seorang warga yang berada di sekitar lokasi mengatakan situasi berubah dengan cepat setelah kericuhan pecah. Ia mengaku sempat panik dan memilih meninggalkan kawasan masjid untuk menghindari bentrokan.
“Awalnya suasananya tenang, masyarakat ikut zikir dan doa. Tiba-tiba situasi berubah ramai dan orang-orang mulai berlarian karena gas air mata,” ujarnya.
Massa juga menggelar aksi pengibaran bendera Bintang Bulan di sejumlah tiang yang berada di halaman Kompleks Masjid Raya Baiturrahman.
Pengibaran bendera tersebut dilakukan sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Damai Aceh. Massa membawa dan memasang bendera Bintang Bulan di kawasan kompleks masjid saat kegiatan berlangsung.
Situasi kemudian berubah tegang setelah aparat melepaskan tembakan peringatan ke udara. Tindakan tersebut memicu reaksi dari massa yang kemudian bergerak mengejar barisan aparat.
Saat suara tembakan peringatan terdengar, sejumlah peserta aksi terlihat langsung merunduk dan tiarap untuk menghindari situasi yang semakin memanas.
Meski demikian, massa kembali melanjutkan aksi pengibaran bendera Bintang Bulan di halaman kompleks Masjid Raya Baiturrahman.
Kericuhan yang terjadi dalam aksi tersebut menyebabkan sejumlah peserta mengalami luka-luka. Salah seorang di antaranya mengalami luka pada bagian kepala dan kemudian dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
Hingga saat ini, penyebab pasti luka yang dialami peserta tersebut belum diketahui.
Selain bentrokan, situasi juga diwarnai aksi pembakaran satu unit sepeda motor yang disebut milik TNI.



