
Demo di Bolivia. Foto: Reuters/Claudia Morales
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH — Untuk meredam gelombang protes besar yang menguncang negaranya akibat krisis ekonomi, Presiden Bolivia Rodrigo Paz mengambil langkah drastis untuk menyelamatkan negaranya dari hura-hara.
Di tengah tekanan publik yang terus meningkat, Paz mengumumkan pemotongan gajinya sendiri hingga 50 persen. Kebijakan serupa juga diberlakukan terhadap seluruh menteri kabinetnya sebagai bentuk solidaritas dan upaya penghematan negara.
“Presiden ini telah membuat keputusan, sebagai bagian dari upaya dan komitmennya kepada negara, untuk mengurangi gajinya sebesar 50%,” ujar Paz di Kota Sucre, seperti dikutip AFP, Selasa (26/5/2026).
Saat ini, gaji Presiden Bolivia berada di kisaran 24.000 bolivianos atau sekitar US$3.500 per bulan. Setelah dipotong separuh, penghasilan Paz diperkirakan turun menjadi sekitar Rp31 juta per bulan.
Langkah tersebut dilakukan di tengah memburuknya situasi nasional. Demonstrasi besar yang pecah sejak awal Mei dipicu kelangkaan bahan bakar, inflasi tinggi, serta memburuknya kondisi ekonomi yang membuat rakyat semakin tertekan.
Situasi di ibu kota administratif La Paz bahkan semakin kritis setelah jalur distribusi logistik diblokade selama berminggu-minggu. Akibatnya, pasokan makanan, BBM, dan obat-obatan mengalami kelangkaan serius.
Paz yang baru enam bulan menjabat juga menghadapi tuntutan mundur dari massa demonstran. Presiden berhaluan kanan-tengah yang didukung Amerika Serikat itu sebelumnya telah mencoba meredakan ketegangan dengan memecat menteri tenaga kerja yang tidak populer dan menjanjikan peran lebih besar bagi serikat pekerja serta kelompok masyarakat adat.
Namun langkah tersebut belum berhasil menghentikan aksi protes. Bentrokan antara aparat kepolisian dan demonstran pecah di jalur menuju La Paz pada akhir pekan lalu dan berlangsung selama berjam-jam.
Dalam wawancara dengan televisi Argentina TN, Paz menegaskan dirinya masih membuka ruang dialog dengan para demonstran.
“Saya akan melakukan segala upaya yang mungkin,” katanya.
Meski demikian, ia juga mengingatkan bahwa pemerintah memiliki batas kesabaran dan membuka kemungkinan pemberlakuan keadaan darurat jika situasi terus memburuk.
Rodrigo Paz sendiri dikenal sebagai ekonom dan berasal dari keluarga politik berpengaruh di Bolivia. Kemenangannya dalam pemilu mengakhiri dominasi pemerintahan sosialis selama dua dekade yang sebelumnya dipimpin Evo Morales.
Sejak berkuasa, Paz berupaya mengatasi krisis devisa dan membengkaknya subsidi BBM. Namun pemerintahnya dinilai belum mampu menstabilkan pasokan energi maupun menekan lonjakan inflasi.
Di tengah kekacauan tersebut, Evo Morales yang kini menghadapi kasus hukum terkait dugaan perdagangan anak di bawah umur, turut menyerukan agar Paz mundur dan menggelar pemilu baru.[edi]