
MEDIASURAK.ID, TEHERAN — Iran memperingatkan bahwa Timur Tengah dapat kembali memasuki fase eskalasi besar setelah komando militernya mengklaim memperoleh informasi bahwa Amerika Serikat (AS) sedang menyiapkan serangan baru terhadap Iran.
Peringatan itu muncul ketika Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington sedang mempertimbangkan sejumlah pilihan terhadap Teheran, mulai dari tekanan ekonomi hingga tindakan militer. Trump juga menyatakan bahwa “hal-hal besar” dapat terjadi dalam waktu tidak lama.
Komando militer pusat Iran pada Minggu (20/9) menyatakan setiap serangan baru akan dibalas dengan serangan berkelanjutan terhadap pangkalan dan kepentingan AS di kawasan.
Iran bahkan memperingatkan negara-negara yang dianggap membantu operasi AS bahwa mereka dapat diperlakukan sebagai bagian dari konflik.
Namun, hingga Senin (21/9), belum ada konfirmasi independen bahwa Washington telah mengambil keputusan final untuk melancarkan serangan baru berskala besar terhadap Teheran.
Situasi inilah yang membuat kawasan kembali berada dalam ketegangan tinggi: Washington menimbang opsi, sementara Teheran bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
Dua Jalur Teheran
Menariknya, Iran tidak hanya menyiapkan opsi militer.
Di tengah ancaman perang, Teheran juga masih mempertahankan jalur diplomasi melalui Qatar dan Pakistan.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei mengatakan Teheran telah menyampaikan sejumlah syarat kepada Washington melalui mediator Qatar untuk mengakhiri perang.
Tiga tuntutan utama yang disampaikan secara terbuka adalah penghentian perang di seluruh front, pembebasan dana Iran yang dibekukan dan penghentian blokade laut.
Rezaei sekaligus menegaskan bahwa Iran siap menghadapi apa yang disebutnya sebagai perang menentukan jika tekanan militer AS berlanjut.
Dengan demikian, posisi Teheran saat ini berjalan pada dua rel sekaligus: negosiasi untuk menghentikan perang dan persiapan menghadapi perang berikutnya.
Hormuz Jadi Kartu Tekanan
Salah satu titik paling sensitif berada di Selat Hormuz.
Iran menyatakan selat strategis tersebut belum akan dibuka kembali sebelum tuntutan Teheran dipenuhi dan komitmen Washington dijalankan.
Selat Hormuz sangat penting bagi pasar energi dunia karena menjadi jalur utama lalu lintas minyak dan gas dari kawasan Teluk.
Karena itu, setiap eskalasi militer di sekitar kawasan tersebut berpotensi menjalar jauh melampaui Iran, Israel dan AS—terutama ke sektor energi, pelayaran dan perekonomian global.
Teheran juga menyatakan pembukaan kembali Hormuz dapat menjadi bagian dari kesepakatan yang sedang dibicarakan dengan mediator regional.
Trump Timbang Tiga Pilihan
Di Washington, Trump mengatakan pemerintahannya sedang mempertimbangkan langkah berikutnya terhadap Iran.
Pilihan yang muncul mencakup tekanan ekonomi lebih lanjut, operasi militer baru atau kesepakatan.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah perang yang dimulai dengan serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari memasuki bulan ketujuh. Trump sebelumnya bahkan mengatakan berharap perang segera berakhir, tetapi perkembangan terbaru menunjukkan jalan menuju penyelesaian masih penuh ketidakpastian.
Pada saat yang sama, Iran mengklaim memiliki informasi bahwa serangan baru sedang dipersiapkan.
Klaim tersebut belum disertai rincian publik mengenai bentuk, waktu maupun sasaran operasi yang disebut-sebut akan dilakukan AS.
Diplomasi Belum Mati
Meski retorika perang kembali meningkat, pintu diplomasi belum tertutup.
Iran masih menggunakan Qatar dan Pakistan sebagai jalur komunikasi dengan Washington. Sementara itu, pembicaraan mengenai masa depan Selat Hormuz juga terus menjadi bagian dari upaya regional untuk meredakan konflik.
Situasi tersebut menciptakan paradoks baru di Timur Tengah.
Iran berbicara tentang perdamaian sambil menyiapkan perang. Amerika Serikat membicarakan kesepakatan sambil mempertahankan ancaman militer.
Dan di tengah tarik-menarik tersebut, Selat Hormuz tetap menjadi salah satu kartu paling menentukan.
Bila serangan baru benar-benar terjadi, respons Iran kemungkinan tidak hanya diarahkan ke wilayah Israel. Teheran telah memperingatkan bahwa pangkalan dan kepentingan AS di kawasan dapat menjadi sasaran, sehingga konflik berisiko kembali melebar ke sejumlah negara Timur Tengah.
Untuk saat ini, yang sudah terlihat bukan kepastian bahwa Teheran akan segera diserbu, melainkan peningkatan kesiagaan militer dan perang pernyataan yang berlangsung bersamaan dengan upaya diplomasi.
Pertanyaannya kini bukan hanya apakah AS akan kembali menyerang Iran, tetapi apakah kanal diplomasi masih cukup kuat untuk mencegah ancaman tersebut berubah menjadi gelombang perang baru.[]



