
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Kenaikan harga minyak goreng kian meluas dan menunjukkan gejala tekanan serius di pasar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, lebih dari separuh wilayah Indonesia kini terdampak lonjakan harga, bahkan di titik ekstrem mencapai Rp 60 ribu per liter.
Harga tertinggi itu tercatat di Kabupaten Intan Jaya, Papua—menjadi sinyal ketimpangan distribusi dan disparitas harga yang makin tajam antarwilayah. Di sisi lain, harga terendah masih berada di kisaran Rp 15.500 per liter, mendekati batas harga acuan nasional.
Secara rata-rata nasional, harga minyak goreng memang hanya naik tipis, dari Rp19.358 menjadi Rp19.592 per liter. Namun di balik angka moderat itu, tekanan sesungguhnya menyebar luas dan tidak merata.
Lonjakan Meluas: Dari 177 ke 207 Daerah dalam Sepekan
Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan kenaikan harga kini terjadi di 207 kabupaten/kota, melonjak dari 177 wilayah pada pekan sebelumnya.
“Ini sengaja kami beri tanda seru. Kenaikannya sangat signifikan dalam waktu singkat,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Senin (20/4).
Jika dipersentasekan, lonjakan harga telah menjangkau 57,5% wilayah Indonesia—indikator kuat bahwa tekanan harga bukan lagi kasus lokal, melainkan tren nasional.
Minyakita Ikut Naik, Tembus HET
Produk subsidi pemerintah, Minyakita, juga tak luput dari kenaikan. Harga kini berada di Rp15.982 per liter, melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp15.700.
Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Kemendag, Nawandaru Dwi Putra, mengakui adanya kenaikan, namun menegaskan bahwa kondisi ini bukan akibat kelangkaan pasokan.
“Secara umum pasokan melimpah dan aman,” katanya.
Pernyataan ini justru memunculkan pertanyaan baru: jika stok aman, mengapa harga tetap naik dan bahkan menembus batas HET?
Biang Kerok: Biaya Produksi dan Kemasan
Pemerintah mengidentifikasi salah satu pemicu utama kenaikan adalah lonjakan harga plastik kemasan. Biaya ini mendorong naik harga minyak goreng kemasan di tingkat produsen hingga ke konsumen.
Fenomena ini menunjukkan tekanan inflasi tidak lagi hanya berasal dari bahan baku, tetapi juga dari rantai distribusi dan industri pendukung.
Dampaknya mulai merambat.
Efek Domino: Gula Ikut Terkerek
Kenaikan harga tidak berhenti di minyak goreng. Komoditas lain seperti gula pasir juga terdampak.
- Harga rata-rata gula: Rp18.731/kg
- Kenaikan: 1,31%
- Wilayah terdampak: naik dari 153 menjadi 171 kabupaten/kota
Menurut Ateng, faktor kemasan kembali menjadi pemicu.
“Plastik sebagai bahan packaging ikut mendorong kenaikan harga gula,” ujarnya.
Anomali Pasar: Stok Aman, Harga Tetap Naik
Kondisi saat ini memperlihatkan anomali yang patut diwaspadai:
- Pasokan diklaim melimpah
- Harga tetap naik dan meluas
- Produk subsidi menembus HET
Ini mengindikasikan adanya tekanan struktural—baik dari sisi biaya produksi, distribusi, maupun potensi inefisiensi pasar.
Jika tidak diintervensi cepat, lonjakan ini berpotensi memperlebar tekanan inflasi rumah tangga, terutama bagi kelompok berpendapatan rendah.[]
