
HT Rayuan Sukma
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Kontingen angkat besi Aceh kembali menunjukkan kelasnya di level nasional. Pada Kejurnas Senior Angkat Besi PT Pupuk Indonesia 2026 yang berakhir Minggu (19/4), tim PABSI Aceh sukses mengoleksi 8 medali.
Rinciannya, 4 emas, 1 perak, dan 3 perunggu—capaian yang menegaskan konsistensi Aceh sebagai kekuatan utama angkat besi nasional, sekaligus menyamai torehan emas saat PON XXI 2024.
Meski klasemen akhir belum dirilis panitia, performa Aceh tetap mencuri perhatian di tengah persaingan yang semakin ketat akibat penerapan regulasi kelas baru berbasis standar internasional.
Regulasi Baru, Persaingan Makin Brutal
Pelatih Kepala Aceh, Efendi Eria, mengakui perubahan kelas membuat kompetisi jauh lebih keras, terutama di kelas atas yang digabung.
“Semua tim butuh adaptasi. Kelas atas digabung, otomatis persaingan jadi sangat ketat,” ujarnya.
Hal itu terlihat jelas pada hari terakhir, saat dua lifter andalan Aceh turun.
Amel Bertahan, Zul Ilmi Bertarung Sengit
Lifter senior Nurul Akmal (Amel), eks Olimpiade, tampil di kelas gabungan dan berhasil:
- Emas snatch: 98 kg
- Perunggu total: 214 kg
Namun ia gagal meraih medali di clean and jerk setelah finis di posisi keempat.
Sementara itu, M Zul Ilmi menghadapi pertarungan sengit di kelas 85+:
- Perunggu snatch: 142 kg
- Perunggu clean & jerk: 183 kg
- Perak total: 325 kg
Di nomor total, duel ketat terjadi antara Zul Ilmi, lifter Jawa Tengah, dan Jambi—menjadi salah satu pertarungan paling panas di kejuaraan ini.
Nadita Bersinar, Masa Depan Aceh Terjaga
Sorotan utama datang dari Nadita Aprilia yang tampil gemilang dengan tiga medali emas di kelas 61 kg+.
Efendi menyebut Nadita sebagai harapan baru Aceh di pentas nasional.
“Ini menjadi sinyal positif. Atlet kita tampil all out dan memanfaatkan kejurnas untuk membaca kekuatan lawan,” katanya.
Pijakan Menuju Pra PON 2027
Meski sukses, tim pelatih tidak memasang target berlebihan. Kejurnas ini dijadikan sebagai batu loncatan menuju ajang lebih besar.
“Kita fokus ke Pra PON 2027. Ini bagian dari proses,” tegas Efendi.
Hal senada disampaikan Ketua Pengprov PABSI Aceh, T Rayuan Sukma, yang mengapresiasi perjuangan para atlet.
“Dengan regulasi baru, persaingan jauh lebih berat. Tapi atlet Aceh tetap mampu tampil maksimal,” ujarnya.
Ia optimistis Aceh akan kembali berbicara banyak di PON 2028 NTB–NTT, dengan proses seleksi dimulai dari ajang PORA 2027.
Aceh Tetap di Jalur Juara
Capaian ini menegaskan satu hal:
Aceh tidak hanya pernah berjaya—tetapi masih konsisten menjaga tradisi juara di cabang angkat besi nasional.
Dengan kombinasi atlet senior dan regenerasi yang mulai matang, peluang Aceh untuk terus bersaing di level tertinggi tetap terbuka lebar.[]
