
MEDIASURAK.ID,PIDIE – Harga emas di Kabupaten Pidie kembali melemah tajam. Dalam tiga hari terakhir, penurunan mencapai Rp100.000 per mayam, menandai tekanan kuat di pasar emas lokal.
Pada Kamis (23/4/2026), harga emas kembali turun Rp50.000 setelah sehari sebelumnya mengalami koreksi serupa. Tren ini juga terjadi di sejumlah daerah lain di Aceh seperti Lhokseumawe dan Langsa, menunjukkan pelemahan yang merata.
Harga Terbaru: Perhiasan hingga Logam Mulia Ikut Turun
Menurut Haji Jamal Abadi, pedagang emas di Beureunuen, harga emas perhiasan 23 karat kini berada di angka:
- Rp8.200.000 per mayam (setelah ongkos)
⬇️ turun dari Rp8.250.000
Sementara itu:
- Emas 20 karat: Rp7.200.000 per mayam
- Emas Antam lokal (99,5%): beli Rp2.465.000/gram, jual Rp2.400.000/gram
- Emas logam mulia (99,99%): beli Rp2.600.000/gram, jual Rp2.520.000/gram
Penurunan ini menunjukkan tekanan tidak hanya pada perhiasan, tetapi juga pada emas batangan.
Fenomena Ganda: Diburu Pembeli, Dilepas Penjual
Menariknya, di tengah harga yang turun, pasar justru menunjukkan dua arah berbeda:
- Pembeli mulai meningkat karena harga dianggap lebih “murah”
- Namun sekitar 50% warga memilih menjual emas untuk kebutuhan likuiditas
Kondisi ini mencerminkan satu hal:
emas tidak lagi sekadar investasi, tetapi juga “penyangga ekonomi rumah tangga” saat tekanan ekonomi meningkat.
Sinyal Ketidakpastian Pasar
Fluktuasi tajam dalam waktu singkat menjadi sinyal bahwa pasar emas di Aceh sedang tidak stabil.
Penurunan harga bisa dipengaruhi oleh:
- pergerakan harga emas global,
- penguatan dolar,
- serta dinamika permintaan lokal.
Bagi pedagang dan investor, situasi ini menuntut kewaspadaan tinggi.
Momentum atau Risiko?
Turunnya harga emas bisa menjadi peluang bagi pembeli.
Namun di sisi lain, bagi pemilik emas, ini menjadi dilema: menjual sekarang atau menunggu harga kembali naik.
Di Pidie, emas hari ini bukan hanya soal harga—tapi juga soal bertahan di tengah tekanan ekonomi.[sa]
