
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH – Nilai tukar rupiah kembali terpukul. Pada perdagangan Kamis (23/4/2026), rupiah melemah terhadap dolar Singapura hingga menembus level psikologis baru di atas Rp13.500 per SGD—bahkan mencatat level terlemah sepanjang sejarah secara intraday.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah berada di posisi Rp13.551/SGD pada pukul 11.41 WIB, melemah 0,70%. Sepanjang sesi, tekanan terus berlanjut hingga sempat menyentuh Rp13.564/SGD.
Pelemahan ini bukan sekadar fluktuasi harian, melainkan bagian dari tren yang semakin mengkhawatirkan.
Safe Haven Baru di Asia
Di tengah ketidakpastian global, Dolar Singapura justru menguat tajam. Investor global memburu mata uang ini karena dianggap sebagai safe haven regional.
Reputasi Singapura sebagai negara dengan stabilitas ekonomi, sistem keuangan kuat, dan peringkat kredit AAA menjadi faktor utama.
Senior FX strategist UOB, Peter Chia, menyebut dolar Singapura mendapat dukungan kuat dari status tersebut.
Senada, Head of FX Research Maybank, Saktiandi Supaat, menilai investor kini cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap paling aman di kawasan.
Rupiah Paling Terpukul di Asia
Data menunjukkan, rupiah menjadi mata uang Asia dengan pelemahan terdalam terhadap dolar Singapura sepanjang tahun ini.
- Rupiah: -4,60% (ytd)
- Won Korea Selatan: -3,55%
- Peso Filipina: -3,54%
- Baht Thailand: -3,41%
- Yen Jepang: -2,63%
- Dong Vietnam: -1,17%
Sebaliknya, hanya yuan China dan ringgit Malaysia yang masih mampu menguat terhadap dolar Singapura.
Ini menegaskan satu hal:
tekanan terhadap rupiah bukan hanya global, tapi juga mencerminkan kerentanan domestik.
Efek Konflik Global dan Energi
Faktor eksternal turut memperparah kondisi. Konflik di Timur Tengah mendorong ketidakpastian pasar, sekaligus meningkatkan daya tarik mata uang aman.
Menariknya, mata uang safe haven tradisional seperti yen Jepang justru tidak sekuat biasanya—karena Jepang sangat bergantung pada impor energi, yang terdampak langsung oleh lonjakan harga minyak.
Di sisi lain, Singapura yang berbasis jasa keuangan justru diuntungkan dari arus modal global.
Apa Dampaknya bagi Indonesia?
Pelemahan rupiah terhadap dolar Singapura membawa dampak langsung:
- Biaya impor meningkat, terutama barang dari Singapura
- Tekanan inflasi dari sektor logistik dan perdagangan
- Daya beli tergerus, khususnya untuk kebutuhan berbasis impor
Selain itu, sektor perjalanan dan pendidikan ke Singapura juga akan terasa lebih mahal bagi masyarakat Indonesia.
Alarm Baru bagi Stabilitas Rupiah
Lonjakan dolar Singapura ini menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap rupiah belum mereda.
Jika ketidakpastian global berlanjut, bukan tidak mungkin level pelemahan baru akan kembali tercipta.
Pertanyaannya kini: apakah rupiah mampu bertahan, atau justru akan terus terseret arus global?[dk]
