
Nasri Djalal, Kepala BPMA
MEDIASURAK.ID. BANDA ACEH – Tiga blok minyak dan gas bumi (migas) di Aceh kini ramai dilirik investor, baik dari dalam maupun luar negeri. Minat tersebut menjadi sinyal kuat bahwa sektor energi Aceh kembali dipercaya dan dinilai memiliki prospek besar di tengah kebutuhan pasokan energi nasional yang terus meningkat.
Kepala Badan Pengelola Migas Aceh, Nasri Djalal, mengungkapkan, investor yang berminat berasal dari perusahaan asing hingga perusahaan lokal.
“Ini menunjukkan potensi migas Aceh masih sangat menjanjikan dan mulai kembali mendapat kepercayaan investor,” ujar Nasri Djalal di Banda Aceh.
Salah satu blok yang menjadi perhatian adalah Blok Andaman III di lepas pantai Pidie Jaya. Blok offshore ini diminati konsorsium Jepang yang terdiri dari JAPEX dan JOGMEC. Kawasan tersebut sebelumnya dikelola oleh Repsol.
Sementara itu, Blok Lhokseumawe yang kontraknya dengan Zaratex telah berakhir, kini dilirik perusahaan lokal PT Energi Hijau. Perusahaan tersebut disebut akan melakukan studi bersama dengan Barakah Petroleum.
Di sisi lain, South Block A (SBA) di Aceh Timur diminati BUMD PT Pembangunan Aceh. Blok ini sebelumnya sempat hilang dari peta migas nasional setelah digabungkan ke Blok Meuligoe menjadi Blok Meuseuraya dan masuk daftar lelang Kementerian ESDM.
Namun, melalui upaya panjang dan lobi BPMA, blok tersebut kembali dipisahkan dan kini ditawarkan kepada PEMA untuk dikelola.
Nasri menilai masuknya investor dari berbagai negara dan kalangan usaha menunjukkan iklim investasi migas di Aceh mulai membaik. BPMA, katanya, akan terus menjaga kepercayaan investor melalui percepatan regulasi dan dukungan kepastian usaha.
“Indonesia sedang mengejar peningkatan produksi energi. Karena itu, Aceh harus mengambil peran strategis sebagai daerah penopang pasokan nasional,” katanya.
Minat terhadap tiga blok migas tersebut sekaligus menegaskan bahwa Aceh kembali masuk radar utama pertumbuhan energi nasional, setelah lama tertidur di tengah ketidakpastian investasi.[edi]
