
MEDIASURAK.ID,BANDA ACEH – Lonjakan harga logam mulia kembali diuji. Pekan ini, emas dan perak justru dibayangi tekanan kuat—dan bisa mengecewakan pelaku pasar.
Data Refinitiv menunjukkan, harga emas masih tertahan di level US$4.613 per troy ons pada awal perdagangan Senin (4/5/2026), setelah sebelumnya melemah sepanjang pekan lalu hingga terkoreksi lebih dari 2%.
Tren ini mengirim sinyal jelas: momentum emas sedang kehilangan tenaga.
Di tengah ketidakpastian global, arah harga emas kini terjebak dalam tarik-menarik antara sentimen geopolitik dan tekanan kebijakan moneter.
Pasar kini menaruh perhatian pada dinamika negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran—faktor yang bisa memengaruhi harga minyak sekaligus sentimen risiko global.
Namun, di sisi lain, kebijakan bank sentral yang cenderung “hawkish” justru menjadi rem utama bagi emas.
Ketika suku bunga tinggi bertahan, emas kehilangan daya tariknya.
Tidak ada imbal hasil—sementara biaya peluang makin mahal.
“Ekspektasi suku bunga global meningkat signifikan, ini menekan ruang kenaikan emas,” kata Adam Button dari ForexLive.
Tekanan teknikal juga mulai terlihat.
Emas gagal bertahan di level US$4.647 per ons—titik penting yang seharusnya menjadi pijakan untuk naik. Kini, risiko koreksi terbuka lebar.
Jika menembus US$4.495, harga berpotensi turun lebih dalam ke kisaran US$4.400 per ons.
Artinya:
tren naik belum aman—bahkan bisa berbalik arah.
Pasar Terbelah, Investor Mulai Ragu
Survei pasar menunjukkan sentimen yang terpecah.
Sebagian analis masih optimistis harga akan naik, tetapi porsi yang memperkirakan penurunan juga besar. Investor ritel pun tak jauh berbeda—terbelah antara harapan dan kehati-hatian.
Ini mencerminkan satu hal:
pasar sedang bingung arah.
Perak: Lebih Berisiko
Jika emas goyah, perak justru lebih ekstrem.
Harga perak memang sempat menguat, namun dalam sepekan tetap melemah. Proyeksi jangka pendek pun tidak terlalu menggembirakan.
Bank investasi global UBS memperkirakan kenaikan perak terbatas, dengan kisaran US$85 per ons dalam 12 bulan ke depan.
Yang lebih mencemaskan: volatilitasnya.
Dalam jangka pendek, volatilitas perak menyentuh 100%—level yang bahkan sebanding atau lebih tinggi dari Bitcoin.
Perak kini bukan lagi sekadar “safe haven alternatif”.
Ia berubah menjadi aset spekulatif berisiko tinggi.
Akibat Geopolitik
Lonjakan harga akibat konflik global, termasuk ketegangan AS-Iran, terbukti hanya bersifat sementara.
Reli cepat—lalu turun lagi.
Artinya, pasar mulai kebal terhadap sentimen geopolitik.
Tanpa dukungan fundamental kuat, kenaikan harga sulit bertahan.
Fluktuatif, Tanpa Arah Jelas
Pekan ini, emas dan perak diperkirakan akan bergerak liar dalam rentang lebar—namun tanpa tren yang solid.
Bagi investor, ini bukan fase euforia.
Ini fase penuh kehati-hatian.
Karena di pasar saat ini,
harapan bisa naik—tapi risiko jatuh lebih cepat.[am]
