
Trump
MEDIASURAK.ID, BANDA ACEH — Konflik Amerika Serikat dan Iran kembali berada di titik paling berbahaya. Presiden Donald Trump dilaporkan murka dan semakin frustrasi terhadap sikap Teheran dalam negosiasi penghentian konflik dan kini mempertimbangkan operasi militer besar-besaran yang jauh lebih agresif dibanding serangan sebelumnya.
Laporan sejumlah media Amerika, termasuk CNN, menyebutkan lingkaran dalam Gedung Putih mulai membahas opsi eskalasi perang secara serius setelah negosiasi dengan Iran kembali menemui jalan buntu.
Sumber-sumber dekat pemerintahan Trump mengungkapkan bahwa kemarahan Presiden AS dipicu oleh berlanjutnya penutupan Selat Hormuz — jalur vital perdagangan energi dunia yang menjadi urat nadi distribusi minyak global.
Penutupan selat strategis tersebut telah mengguncang pasar energi internasional dan meningkatkan kekhawatiran dunia terhadap ancaman krisis ekonomi global.
Selain itu, Trump disebut kecewa dengan apa yang dianggapnya sebagai sikap tidak serius Iran dalam pembicaraan nuklir dan penghentian konflik.
“Respons terbaru Iran sama sekali tidak dapat diterima,” kata seorang pejabat AS yang dikutip media Amerika.
Di mata Washington, perpecahan di internal kepemimpinan Iran dinilai menjadi salah satu penyebab utama sulitnya tercapai kesepakatan substantif.
Kondisi itu memunculkan keraguan di kalangan pejabat AS apakah Teheran benar-benar ingin menyelesaikan konflik melalui jalur diplomasi atau sekadar memainkan strategi mengulur waktu.
Situasi semakin rumit karena di internal pemerintahan Trump sendiri terjadi perbedaan pandangan tajam terkait langkah selanjutnya.
Sejumlah pejabat keamanan nasional dan petinggi Departemen Pertahanan Amerika Serikat mendorong pendekatan militer yang lebih keras untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan.
Salah satu opsi yang dibahas adalah serangan presisi terhadap target strategis Iran guna memperlemah posisi militer dan politik Teheran.
Namun sebagian pejabat lain masih menginginkan jalur diplomasi diberi kesempatan terakhir sebelum konflik berubah menjadi perang terbuka berskala lebih besar di Timur Tengah.
Di tengah memanasnya situasi, perhatian Gedung Putih juga tertuju pada peran Pakistan sebagai mediator regional.
Lingkaran dekat Trump disebut menginginkan Islamabad lebih tegas dalam menyampaikan tekanan Washington kepada Iran.
Bahkan, sejumlah pejabat AS mulai curiga Pakistan terlalu “melunakkan” pesan keras Trump saat berkomunikasi dengan Teheran.
“Ini kesempatan terakhir bagi Iran untuk serius dalam diplomasi, tetapi mereka tampaknya tidak mendengarkan siapa pun,” ujar seorang pejabat kawasan.
Menurutnya, AS dan Iran memiliki cara pandang berbeda terhadap tekanan ekonomi dan waktu negosiasi. Iran dinilai lebih terbiasa menghadapi sanksi dan tekanan internasional setelah puluhan tahun hidup di bawah embargo ekonomi Barat.
Pada Senin waktu setempat, Trump kembali menggelar rapat tertutup bersama tim keamanan nasional di Gedung Putih guna membahas berbagai opsi strategis terhadap Iran.
Meski begitu, sumber di Washington menyebut keputusan besar kemungkinan baru akan diambil setelah Trump menyelesaikan agenda kunjungan kenegaraannya ke China pada Selasa (12/5/2026).
Situasi ini membuat dunia internasional semakin khawatir terhadap kemungkinan pecahnya eskalasi baru di Timur Tengah yang dapat mengguncang stabilitas politik global, harga minyak dunia, hingga keamanan jalur perdagangan internasional.[dk]
